JALAN MENUJU SURGA ITU BANYAK, CUKUP MENANAM SATU BIJI

 

diambil dari faedah kajian:

๐Ÿ“˜ Kitab Riyaadhusshaalihiin | BAB 13 Hadits ke-19

๐Ÿ‘ค K.H. AHMAD ZAINUDDIN AL BANJARY ุญูŽููุธูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู

๐Ÿ“† Selasa, 18 Rabiul Akhir 1443 H / 23 November 2021

๐Ÿ•Œ Masjid Umar bin Khattab โ€“ Barito Kuala

 


 

Dari Jabir radhiyallahu anhu pula, katanya: Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: โ€œTiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang dapat dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan apa saja yang tercuri daripadanya, itupun sebagai sedekah baginya. Dan tidak pula dikurangi oleh seorang lain, melainkan itupun sebagai sedekah baginya.โ€ (Riwayat Muslim)

 

Maa = Nafiy
Muslimin = Nakirah menunjukan kepada keumuman
โ€œTiada seorang muslimpun..”
Mau kaya miskin

 

perbedaan yaghrisu : condong kepada pepohonan
adapun yazra’u : condong kepada pertanian

 

gharsan = nakirah menunjukan kepada keumuman (artinya, pohon apapun)

 

kalau ada nafiy lalu setelahnya pengecualian, menunjukan kepada kekhususan

 

Perkataan menarik dari Syaikh Muhammad Sholih bin Utsaimin rahiimahullah, “Jika pohon itu dimakan, baik dia niatkan ataupun tidak diniatkan maka dia akan mendapat pahala.”

 

Walaupun manfaatnya diambil oleh orang lain maka dia mendapatkan pahala

 

Syarah Kitab Riyaadhus Shaalihin adalah Dalilul Falihin, “Pahala bagi pemilik buah seperti sedekah kepada yang mengambil, dan tidak berarti barang yang dicuri tadi menjadi hak pencuri.”

 

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan: โ€œMaka tidaklah seorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia ataupun binatang, ataupun burung, kecuali semuanya itu adalah sebagai sedekah baginya sampai hari kiamat.โ€

 

โ€ข Setiap orang yang beragama Islam

Islam=Iman=Tauhid=Ikhlas
jikalau seseorang beramal namun tidak beriman, maka tidak dapat pahala!

Allah berfirman,
“Dan tidak ada yang menahan dari sedekah mereka kecuali kekafirannya..”

 

โ€ข Pohon apapun yang dia tanam

 

โ€ข Manusia siapapun muda, tua, kaya, miskin, muslim, kafir

 

โ€ข Hewan melata apapun
seperti semut, ulat, ular dll.

 

โ€ข Rahasia dari penyebutan “Hewan Melata” dalam Quran dan hadis.
Syaikh Al Muhaddits Abdul Muhsin bin Amr bin Abbad hafizahullah ditanya seorang muridnya,
“Apa rahasia prang yang menuntut ilmu dimintakan istighfar oleh semut dan oleh ikan?”
Syaikh menjawab, “Karena jumlahnya tidak dapat dihitung”

 

โ€ข Disaaat pohon tersebut, meskipun kepemilikan berpindah
contoh: Saya tanam pohon Jeruk, lalu saya jual tanahnya

 

Imam ibnul Arabi berkata,
“Termasuk dari luasnya rahmat Allah seseorang diberi pahala setelah dia mati sbeagiamana dia masih hidup sedekah yang terus mengalir, ilmu, anak sholeh, tanaman yang dia tanam, tumbuh-tumbuhan, prajurit yang menjaga diperbatasan maka dia akan selalu mendapatkan pahala.”

 

Faedah menarik
“Jika seseorang memikirkan luasanya rahmat Allah maka tidak akan pernah dia menggerutu tentang pemberian Allah.”

 

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain lagi disebutkan: โ€œTidaklah seorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, tidak pula ia menanam sesuatu tumbuh-tumbuhan, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, ataupun oleh binatang ataupun oleh apa saja, melainkan itu adalah sebagai sedekah baginya.โ€

 

– Bahwa hadis ini salah satu bukti di dalam Islam sangat banyak jalan menuju kebaikan, salah satunya menanam pohon.

– Terdapat perintah untuk bercocok tanam.

– Terdapat perbedaan, palig utama dalam mencari rizki Tijaaroh, Membuat karya dengan tangannya, dan Bercocok tanam dan ini yang paling kuat

– Dia akan dapat pahala walaupun dia tidak berniat untuk memberikan sedekah kepada yang mengambil manfaat dari pohonnya

– ini adalah dalil bolehnya seseorang mencari harta! Ini bantahan bagi kaum tasawwuf

 

Ceritanya Kaum Tasawwuf:
Di zaman Umar bin Khattab terjadi penyebaran besar-besaran wilayah Islam sampai ke Spanyol, maka ada gerakan yang hendak mengembalikan kaum Muslimin untuk memakmurkan Masjid lalu mereka berdiam di Masjid saja.

 

Ada fatwa Syaikh
“Kalau ada sepatu khuf yang bolong-bolong maka sah.”

Allah berfirman,
“Maka carilah bagianmu dari Akhirat dan janganlah lupakan nasib kalian di Dunia.”
{Al Qashas:33}

Pemahamannya bukan 50×50!
contoh: Shalat subuh okey lalu dzuhur dan ashar skip. Maghrib Isya okey lagi.

Pemahaman yang benar dalam ayat ini adalah gunakan apa yang kamu dapat dikehidupan dunia untuk

Berdagang boleh saja, asal tidak terlena! tidak menjadi orientasi! itu hanya sebatas sarana untuk meraih akhirat.

 

Ditulis oleh,
Juru Tulis Pesantren Intan Ilmu & Masjid Umar bin Khattab