KETUNDUKAN DAN KEPATUHAN TANDA IMAN

 

diambil dari faedah kajian:

📘 Kitab Riyaadhusshaalihiin Karya Al Imam An Nawawi Asy-Syaafi’i rahiimahullah | Hadits Nomor 168 | BAB 17 (Kewajiban Tunduk Kepada Hukum Allah)

👤 K.H. Ahmad Zainuddin Al Banjary hafizhahullah

📅 Rabu, 24 Syawal 1443 H / 25 Mei 2022

🕌 Masjid Umar bin Khattab – Barito Kuala

 


 

Judul lengkap bab 17: Kewajiban tunduk kepada Hukum alllah dan apa yang diucapkan orang yang diajak kepada Hukum Allah dan diperintahkan kepada yang ma’ruf dan di jauhkan dari yang munkar. Adapun ucapanya yaitu sami’na wa atho’na.

 

Bab ini adalah bab yang sangat agung, karna keimanan itu adalah ketundukan, orang-oramg yang tunduk dan patuh ditandai dengan beberapa tanda pada dirinya, yaitu:

 

1. tanda orang yang beriman berarti ia tunduk dan patuh kepada Hukum Allah, dan ketundukan ditandai dengan beberapa sikap, diantaranya menjadikan Rasulullah sebagai pemutus hukum. (an-nisa:65)

2. setelah diputuskan hukumnya, maka tidak merasa berat terhadap Hukum tersebut. (an-nisa:65)

3. menerima dengan sebenar-benar menerima. (an-nisa:65)

4. Orang yang tunduk akan mengatakan sami’na wa atho’na, jika diajak kepada hukum allah

5. Tidak memiliki pilihan lain karena ketetapan Allah adalah ketetapan yg pertama (al-ahzab : 36)

6. orang yang tunduk dan patuh tidak akan memaksiati yang memerintahnya.

5. mengembalikan semua Hukum kepada Allah baik dari alquran ataupun hadits Rasulullah. (Asy-syura: 10)

6. orang yang tunduk maka dia akan sangat taat kepada allah (an-nisa: 59)

7. jika terjadi perselisihan maka dikembalikan kepada al-quran dan hadits Rasulullah

 

Hadits 168. Hadits dari abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

• Ketika turun ayat kepada Rasulullah yaitu surah al-baqarah: 284, maksud dari ayat ini, Allah memberitahu kan kepada kita bahwa milik Allah lah apa yang ada dilangit dan di bumi, huruf ل pada kalimat لله kepimiilikan secara khusus. Adapun ما pada kalimat setelahnya menunjukkan keumuman, bahwa apa saja yang ada di langit dan di bumi ini baik yang kita lihat atau tidak, maka itu semua kepunyaan Allah Ta’ala.

 

• Para sahabat radhiyallahu ‘anhum merasa keberatan jika dihitung sebagai dosa apa yang ada didalam hati, maka ayat ini terasa berat bagi para sahabat. bukan berarti para sahabat tidak mau mengamalkan ayat tersebut, justru mereka sangat gigih dalam menjalankan syariat, maka dari itu mereka merasa berat karna hati milik Allah. Allah menurunkan 284, dan dibenarkan oleh Allah di ayat 285. Ketika mereka melaksanakan nya yang penting di Terima dulu, maka kemudian Allah akan menghapus dengan menurunkan ayat, “Allah tidak akan membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kemampuannya.”

 

• Inti pendalilan: pada kata “sami’na wa atho’na”, maka jika terdapat perintah atau ajakan kepada hukum Allah, ucapkanlah perkataan demikian dan berlapang dadalah. Lalu akan banyak timbul pertanyaan:

 

1. Mengapa hari kiamat itu terjadi? Mengapa Allah ciptakan dunia kemudian menghancurkannya, dan membangkitkan pada hari kiamat? maka jawabannya, suka-suka Allah lah kita makhluk (budak Allah yang diatur sedemikian rupa oleh Allah) maka berlapang dadalah dengan semua ketetapan Allah Ta’ala.

 

2. Mengapa selalu diakhirkan dalam pengabulan doa? karna kita ini makhluk dan budak Allah, maka tidak sepantasnya budak memaksa rajanya untuk memberikan apa yang dia mau, apalagi si budak ini belum menjalankan perintah dengan baik, ditambah lagi dengan bermaksiat kepada Allah, maka jelaslah sepantasnya tidak bertanya demikian.

 

Faedah hadits:

– bersegaranya para sahabat mengerjakan perintah Allah dan RasulNya

– ketundukan kepada allah, sebab kemudahan dan pertolongan Allah kepada kita. Karna ibadah mendatangkan berkah.

– Sesuatu yang lupa atau tidak sengaja maka tidak dihukum dalam agama Islam.

– Tiga doa yang sangat istimewa pada surah al baqarah di ayat terakhir, yaitu memohon maaf, momohon ampunan, dan memohon rahmat dari Allah subhanahu wa Ta’ala.

 

Ditulis oleh,
Juru Tulis Pesantren Intan Ilmu & Masjid Umar bin Khattab