SALAH SATU KESUKSESAN SEORANG PENDAKWAH

SALAH SATU KESUKSESAN SEORANG PENDAKWAH

 

SALAH SATU KESUKSESAN SEORANG PENDAKWAH

Diantara kesuksesan seorang pendakwah adalah mati diatas dakwah tauhid.

Dakwah pada tauhid agar seorang muslim menjauhi syirik harus lebih diprioritaskan daripada pengingkaran maksiat lainnya, tanpa bermaksud untuk menganggap remeh maksiat. Karena syirik berkaitan dengan hak Allah, dan juga merupakan larangan serta tindak kezhaliman yang paling besar. Sedangkan dosa maksiat lainnya masih menempati urutan di bawahnya.

Tauhid adalah inti dakwah para Rasul, dari Rasul yang pertama sampai rasul yang terakhir. Allah ﷻ berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut’.” (An Nahl: 36)

SUCINYA BULAN RAJAB

SUCINYA BULAN RAJAB

 

{إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ} [التوبة: 36]

 

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” QS. At Taubah: 36.

 

 عَنْ أَبِى بَكْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »

Artinya: “Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Masa telah berputar seperti keadaannya saat telah diciptakan langit dan bumi, satu tahun 12 bulan, diantaranya empat bulan suci, tiga bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Al Muharram dan bulan Rajab mudhar yang terletak antara bulan Jumada dan Sya’ban.” HR. Bukhari.

 

Untuk Apa Disucikan Bulan Rajab?

وحرم رجب في وسط الحول، لأجل زيارة البيت والاعتمار به، لمن يقدم إليه من أقصى جزيرة العرب، فيزوره ثم يعود إلى وطنه فيه آمنا.

 

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa kesucian bulan rajab di tengah tahun, untuk mengunjungi ka’bah dan berumrah di dalamnya bagi siapa yang mendatanginya dari ujung tanah Arab, maka mereka dapat mengunjunginya dan kembali ke tanah mereka di dalam bulan Rajab tersebut dalam keadaan aman. Lihat tafsir Ibnu katsir.

 

Kalau Bulan suci, Lalu apa yang dilakukan?

 وقال تعالى: { فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ } أي: في هذه الأشهر المحرمة؛ لأنه آكد وأبلغ في الإثم من غيرها، كما أن المعاصي في البلد الحرام تضاعف، لقوله تعالى: { وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ } [الحج: 25] وكذلك الشهر الحرام تغلظ فيه الآثام؛ ولهذا تغلظ فيه الدية في مذهب الشافعي، وطائفة كثيرة من العلماء، وكذا في حَقِّ من قتل في الحرم أو قتل ذا محرم.

وقال حماد بن سلمة، عن علي بن زيد، عن يوسف بن مِهْران، عن ابن عباس، في قوله: { فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ } قال: في الشهور كلها.

عن ابن عباس قوله: { إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا } الآية { فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ } في كلِّهن، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما، وعَظم حُرُماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم.

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kalian berbuat zhalim di dalamnya kepada diri kalian”, maksudnya yaitu: di dalam bulan-bulan suci ini, karena lebih ditekankan dan lebih berat dosanya dibanding selainnya, sebagaimana maksiat di tanah suci dilipatkan dosanya, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa yang menginginkan di dalamnya berbuta zhalim maka akan kami rasakan kepadanya siksa yang pedih, maka demikian pula bulan-bulam suci dilipatkan di dalamnya dosa.

 

Beliau juga berkata: “Abdullah bin Abbas di dalam firman-Nya “Maka janganlah kalian berbuat zhalim terhadap diri kalian di dalamnya”, maksudnya pada selurh bulan, kemudian dikhususkan di dalamnya empat bulan dan Dia jadikan empat bulan tersebut bulan suci, Dia mengagungkan kesuciannya dan menjadikan dosa di dalamnya lebih besar, dan amal shalih di dalamnya ganjarannya lebih besar.” Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir rahimahullah.

 

Adakah Amalan Khusus di dalam Bulan Rajab?

 

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Asy Syafi’ie rahimahullah:

لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيء منه، – معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه – حديث صحيح يصلح للحجة، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ

 

Artinya: “Tidak ada di dalam keutamaan bulan Rajab, baik itu tentang berpuasa di dalamnya atau berpuasa pada hari yang tertentu darinya atau keutamaan beribadah di satu malam khusus di dalamnya, satu hadits shahihpun yang bisa dijadikan sebagai hujjah (sandaran hukum), dan telah mendahului saya dalam penegasan hal ini Imam Abu Isma’il Al Harawi Al Hafidz”.

 

Beliau juga berkata:

وأما الأحاديث الواردة في فضل رجب، أو فضل صيامه، أو صيام شيء منه صريحة، فهي على قسمين: ضعيفة، وموضوعة.

 

“Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaannya atau keutamaan berpuasa di dalamnya atau berpuasa pada satu hari tertentu darinya, maka hadits-hadits tersebut terbagi menjadi dua macam: lemah dan palsu”. Lihat kitab Tabyiinul ‘Ujab bi maa warada fi fadhli Rajab, hal:14.

 

Sebagian amalan bid’ah di dalam bulan Rajab

 

1. Membaca doa khusus ketika awal bulan Rajab, seperti:

اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان

 

Artinya: “Ya Allah, berkahilah bagi kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” Hadits lemah, lihat kitab As Sunan Wal mubtada’at, hal: 143, kitab Tabyiinul ‘ujab bi ma warada fi fadhli Rajab, karya Imam Ibnu Hajar rahimahullah, hal; 14.

 

Hadits ini lemah karena di dalamnya ada dua perawi lemah:

 

–  Zaidah bin Abi Ar Raqqad, Imam Bukhari dan An Nasai mengatakan: “dia adalah seorang perawi yang periwayatannya mungkar”, Abu Hatim mengatakan: “Dia meriwayatkan dari Ziyad An Numairy dari Anas hadits-hadits yang tersambung tapi mungkar, kita tidak mengetahui siapa dia”, Abu daud mengatakan: “Aku tidak mengetahui keadaannya.”

 

–  Ziyad bin Abdillah An Numairy, perwai yang dilemahkan oleh Ibnu Ma’in dan Abu Daud, adapun Ibnu Hibban berkata: “Perawi yang mungkar haditsnya, meriwayatkan hadits dari Anas yang tidak menyerupai hadits-hadits para perawi tsiqat, tidak boleh bersandar dengan hadits-haditsnya.” Abu Hatim berkata: “Haditsnya dituli, tetapi tidak boleh dijadikan sandaran.” Lihat Al fatawa Al Haditsiyyah, karya Al Khuwainy.

 

 

2. Shalat Ragha-ib yang dikerjakan pada malam jum’at pertama di bulan Rajab, antara Maghrib dan Isya-‘ dan pada siang hari kamisnya mengkhususkan dengan berpuasa, karena asal amalan ini adalah hadits palsu, lihat kitab Tabyiinul ‘Ujab Bi Ma Warada fi Fadhli Rajab, karya Imam Ibnu Hajar, hal; 18, kitab Majmu’ Fatawa syiekhul Islam Ibnu Taimiyyah, 23/132, 135.

 

Hadits ini palsu, karena para perawinya orang-orang yang tidak dikenal (majhul) dan ini disepakati oleh para Ahli hadits:

–  Hadits ini dianggap palsu oleh Ibnu Al Jauzy di dalam kitab Al Madhu’at, beliau berkata: “Aku telah mendengar syeikh kami Abdul Wahhab Al Hafizh berkata: “Para Perawinya majhul dan aku telah periksa tentang mereka diseluruh kitab dan aku tidak dapatkan mereka”,

–  Hadits ini dikatakan oleh Al Iraqy sebagai hadits yang palsu di dalam kitab hasyiyah beliau terhadap Ihya ‘Ulumuddin.

–  Hadits ini disebutkan Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalany termasuk hadits yang palsu di dalam kitab Tabyyinul ‘Ajab bima Warada Fi Fadhli Rajab.

–  Hadits ini dikatakan oleh As Suyuthi sebagai hadits yang palsu, di dalam kitab Al La-ali Al Mashnu’ah.

–  Hadits ini disebutkan oleh Asy Syaukany di dalam kitab Al fawaid Al Majmu’ah dan Tufat Adz Dzakirin, sebagai hadits yang palsu dan para perawinya majhul dan para al huffazh sepakat bahwa shalat ini adalah shalat yang palsu.

–  Hadits ini dinyatakan Al Mulla Ali Al Qary di dalam kitab Al Asrar Al Marfu’ah Fil Akhbar Al Maudhu’ah, sebagai hadits yang palsu dengan kesepakatan.

–  Hadits ini dinyatakan oleh Ibnul Qayyim di dalam kitab Al Manarul Al Munif, hadits-hadits tentang shalat raghaib seluruhnya dusta dan diada-adakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lihat kitab Al A’yad Wa Atsaruha ‘alal Muslimin, hal: 345-365.

 

3. Mengkhususkan mengeluarkan zakat di dalam bulan ini, hal ini karena tidak ada asal hukum yang menunjukkan akan hal tersebut sebagaimana perkataan Imam Ibnu Rajab rahimahullahu: “Hal tersebut tidak ada dasar hukumnya di dalam sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak dikenal dikalangan para salaf (para shahabat-pent).” Lihat kitab Latha-iful Ma’arif, karya Imam Ibnu Rajab rahimahullahu, hal: 231-232.

 

4. Mengkhususkan berpuasa di hari-hari tertentu pada bulan Rajab atau mengkhususkan berpuasa di dalamnya secara menyeluruh selama satu bulan penuh. Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu Rajab rahimahumallahu: “Tidak ada riwayat shahih satupun tentang keutamaan mengkhususkan berpuasa di bulan Rajab, baik itu riwayat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau dari para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.” Lihat kitab Latha-iful Ma’arif, hal: 228 dan Kitab Majmu’ fatwa syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullahu-, 25/192290.

–  Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memukuli telapak tangan-telapak tangan orang-orang di dalam bulan Rajab sampai mereka meletakkannya di dalam tempat makanan. Beliau berkata: “Makanlah kalian, karena sesungguhnya ini adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyyah.” HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Mushannaf beliau dan Ath Tharthusyi di dalam kitab Al Hawadits wal bida’. (3/102)

–  Ath Tharthusyi berkata: “Dan yang ada dianggapan manusia dari pengagungannya (bulan Rajab) sesungguhnya itu hanya dari sisa orang jahiliyyah.” Lihat Al Hawadits Wal Bida’ (129).

 

5. Berkumpul memperingati kejadian yang sangat agung Isra-‘ dan Mi’raj, hal ini dikarenakan beberapa hal:

–  Setelah kejadian yang agung ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hidup hampir 12 atau 13 tahun, tapi tidak ada riwayat satupun yang shahih bahkan palsu beliau mengumpulkan para shahabatnya untuk memperingati akan kejadian ini.

–  Tidak ada riwayat yang shahih dan jelas yang menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada tanggal 27 Rajab, meskipun kita harus mempercayai seyakin-yakinnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan isra-‘ dan mi’raj, karena hal ini adalah bentuk keimanan yang harus diyakini seyakin-yakinnya.

Abu Syamah berkata: “Disebutkan oleh para pendongeng bahwa isra terjadi di dalam bulan rajab, pendapat itu menurut ulama jarh dan ta’dil adalah kedustaan yang sangat nyata.” Al Ba’its (71), karya Abu Syamah dan Lathaif Al Ma’arif (126), karya Ibnu Rajab.

Ibnu Katsir rahimahullah: “Hadits yang di dalamnya terdapat bahwa isra’ dan mi’raj terjadi pada malam 27 rajab adalah tidak benar.” Al Bidayah Wa An Nihayah (3/107).

– Kalaupun riwayatnya benar maka, tidak boleh kita mengkhususkan berkumpul dalam rangka ibadah memperingati kejadian agung Isra-‘ dan Mi’raj, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum tidak pernah mengerjakannya, lau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi (kalau hal tersebut itu baik, maka niscaya mereka (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum) akan lebih dahulu mengerjakannya daripada kita. Wallahu a’lam

 

Penulis: K.H. Ahmad Zainuddin Al Banjary

1 Rajab 1433H, Banjarmasin

MISTERI HIDUP SETELAH KEMATIAN

MISTERI HIDUP SETELAH KEMATIAN

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

 

Sobat…

Pernah mendengar seorang hidup lagi setelah mati…?!?!

Ternyata andapun bisa…!

Bahkan mungkin kehidupan dan umur kedua anda bisa lebih panjang daripada kehidupan dan umur anda di dunia!

Seorang manusia ternyata mempunyai umur dua kali, ditulis di dalam dua kehidupannya amal perbuatannya yang pertama di dalam kehidupannya di dunia dan amal perbuatannya yang kedua  setelah matinya, yaitu amal-amal shalih atau amal thalih (buruk)nya, sebagaimana Firman Allah Taala:

 {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ } [يس: 12]

 

Artinya: “Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan (juga kami menuliskan) bekas-bekas peninggalan mereka, segala sesuatu kami perhitungkan di dalam kitab yang nyata.” QS. Yasin: 12.

 

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:

{ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا } من الخير والشر، وهو أعمالهم التي عملوها وباشروها في حال حياتهم، { وَآثَارَهُمْ } وهي آثار الخير وآثار الشر، التي كانوا هم السبب في إيجادها في حال حياتهم وبعد وفاتهم، وتلك الأعمال التي نشأت من أقوالهم وأفعالهم وأحوالهم، فكل خير عمل به أحد من الناس، بسبب علم العبد وتعليمه ونصحه، أو أمره بالمعروف، أو نهيه عن المنكر، أو علم أودعه عند المتعلمين، أو في كتب ينتفع بها في حياته وبعد موته، أو عمل خيرا، من صلاة أو زكاة أو صدقة أو إحسان، فاقتدى به غيره، أو عمل مسجدا، أو محلا من المحال التي يرتفق بها الناس، وما أشبه ذلك، فإنها من آثاره التي تكتب له، وكذلك عمل الشر.

ولهذا: { من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة، ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة } وهذا الموضع، يبين لك علو مرتبة الدعوة إلى اللّه والهداية إلى سبيله بكل وسيلة وطريق موصل إلى ذلك، ونزول درجة الداعي إلى الشر الإمام فيه، وأنه أسفل الخليقة، وأشدهم جرما، وأعظمهم إثما.

Artinya: “Dan kami menulis apa yang telah mereka kerjakan” maksudnya dari amal baik dan buruk, yaitu amalan-amalan yang telah mereka kerjakan dan mereka lakukan secara langsung dalam kehidupan mereka, dan “(Juga kami menulis) bekas-bekas peninggalan mereka” yaitu bekas peninggalan kebaikan dan bekas peninggalan keburukan, yang mana mereka adalah penyebab terjadinya dalam kehidupan mereka dan setelah wafat mereka, amaalan-amalan itu timbul dari ucapan, perbuatan dan keadaan mereka, maka setiap kebaikan yang seseorang mengerjakannya dengan sebab ilmu orang tersebut, pengajarannya, nasehatnya atau ajakannya terhadap yang maruf atau pencegahannya atas yang mungkar atau ilmu yang ditinggalkan pada para murid-murid, atau di dalam kitab yang bermanfaat di dalam kehidupannya atau setelah kematiannya, atau ia telah beramal kebaikan berupa shalat, zakat, sedekah, atau kebaikan apapun lalu selainnya mengikutinya atau membangun masjid atau menyediakan tempat orang beristirahat di dalamnya dan semisalnya dengannya, maka itu adalah bekas-bekas peninggalannya yang dituliskan baginya dan demikian pula amal buruk.

 

Oleh karena inilah, (disebutkan dalam hadits): “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang buruk, maka atasnya dosa dan dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat”. Dan hal ini menjelaskan kepadamu tingginya kedudukan berdakwah kepada agama Allah dan (pemberian) petunjuk kepada jalan-Nya, dengan segala cara dan jalan yang menyampaikan akan hal itu. Dan (juga menunjukkan) turunnya derajat seorang pengajak kepada keburukan, pelopor di dalamnya, dan bahwa ia adalah makhluk paling terburuk, dan paling berat siksanya dan paling besar dosanya. “ lihat Kitab Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Al Kalam Al Mannan saat tafsir surat Yasiin: 12.

 

Inilah orang yang hidup setelah kematiannya…!

Ayo Cari umur keduamu dalam kebaikan!!!

Ditulis oleh K.H. Ahmad Zainuddin Al Banjary

Banjarmasin, Selasa 23 Rabiul Awwal 1439H

BERBAKTI PADA ORANG TUA

BERBAKTI PADA ORANG TUA

 

BERBAKTI PADA ORANG TUA

 


بسم الله الرحمن الرحيم و الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

 

Sangat Sedih Rasanya, Saat orangtuaku berkata kepadaku: “Terima kasih ya nak…, atas pemberiannya”

 

Si Fulan berkata kepada penulis: “Hati saya sangat sakit sekali, perasaan saya hancur, sedih, malu, haru, semua rasa bercampur, ketika orangtua saya berkata kepada saya: “Terima kasih ya nak…, atas pemberiannya”,

Penulis bertanya: “Coba ceritakan dari awalnya, mungkin akan lebih jelas kejadiannya”.

Si Fulan kemudian bercerita: “Ceritanya, orangtua saya minta dikirimi uang dalam jumlah tertentu, dan mereka berkata: “Kirimkan segera ya..”, maka hari itu saya langsung transfer permintaan tersebut kepada orangtua saya, besoknya saya telpon orangtua untuk memberitahukan bahwa uangnya sudah ditransfer, saya berkata kepada orangtua: “Semoga bermanfaat”, mereka menjawab: “Uang yang kamu kirim itu sebenarnya, untuk beli celana panjang bapakmu, karena bapakmu mempunyai celana cuma satu, yang hijau itu aja, padahal beliau sering ikut kajian Islam, kalau celana kotor, maka beliau tidak bisa ikut kajian, yang jelas terima kasih ya nak…atas pemberiannya”.

 

Si fulan pun terdiam sejenak sambil mengatur nafas, menahan tangis, kemudian dia berkata: “Semoga orangtua saya diampuni oleh Allah Ta’ala dari segala dosa dan kesalahan serta diberikan husnul khatimah di akhir hidup mereka, Allahumma amin”.

Cerita di atas adalah cerita nyata, penulis ketika mendengar cerita tersebut hanya bisa meneteskan air mata sambil mengingat-ingat ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang berbakti kepada kedua orangtua.

 

1. Perintah berbakti kepada orangtua disebutkan setelah perintah beribadah kepada Allah semata, hal ini menunjukkan akan sangat tingginya kedudukan berbakti kepada orangtua di dalam Islam.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

(QS Al-Isra ayat 23)

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. QS. Al Isra: 23

 

2. Perintah berbakti kepada orangtua lebih ditekankan lagi ketika mereka sudah dalam keadaan lanjut usia, karena kalau sudah lanjut usia, mereka dalam keadaan:

a. kadang tidak mempunyai tempat tinggal akhirnya tinggal di tempat anaknya.

b. kadang tidak mempunyai penghasilan akhirnya mereka sering minta kepada anaknya.

c. kadang menginginkan sesuatu yang kurang bermanfaat, akhirnya membuat bingung anaknya.

d. Tua renta yang kesusahan mengerjakan kegiatan pribadi secara sewajarnya, seperti buang air besar, buang air kecil dan semisalnya yang menjijikkan, akhirnya anaknya yang mengurusnya.

 

Maka dari sinilah rahasianya, Allah Ta’ala memerintahkan kepada anak:

a. untuk berbakti kepada orangtua,

b. untuk jangan mengucapkan perkataan “ah” kepada mereka,

c. untuk jangan membentak dan mengucapkan perkataan yang baik kepada mereka, terutama dalam keadaan mereka tua. (Lihat Tafsir An Nasafi, 2/283.

 

Coba perhatikan hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ ».

 

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kehinaan baginya, kehinaan baginya, dan kehinaan baginya!!”, lalu ada yang bertanya kepada beliau: “Bagi siapakah kehinaan itu wahai Rasulullah?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mendapati kedua orangtuanya dalam keadaan tua (jompo), salah satunya atau keduanya kemudian ia tidak masuk surga”. (HR. Muslim)

 

3. Sungguh tidak pantas seorang anak mendapatkan ucapan terima kasih dari orangtua, karena berbakti adalah kewajiban anak, mari perhatikan riwayat berikut:

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ أَبِى يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِى فَقَالَ « أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ ».

 

Artinya: “Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Sesungguhnya ada seseorang berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak dan sesungguhnya bapakku ingin mengambil/memusnahkan hartaku”?, Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam menjawab: “Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani)

.

Sungguh Indah perkataan Imam Qurthubi rahimahullah: “Orang yang bahagia adalah orang yang menggunakan kesempatan emas ini untuk berbakti kepada kedua orangtuanya agar ia tidak luput dari (kesempatan emas ini yaitu masuk surga) dengan meninggalnya kedua orangtuanya. Dan orang yang celaka adalah orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, terlebih lagi orang yang telah diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya”. (Lihat Tafsir Al Qurthubi, 10/242).

 

Kawan pembaca…Baktilah…sebelum terlambat!

 

Ditulis oleh seorang anak yang menginginkan kedua orangtuanya dan seluruh orangtua kaum muslim masuk surga. Allahumma amin.

 

Sumber :
https://ahmadzainuddinalbanjary.com/artikel/targhib-wa-tarhib/berbakti-pada-orang-tua/

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG. 03

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG. 03

 

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG.03

 

BAB 2️⃣

______________________________________________

💫 SENI INTERAKSI RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM TERHADAP ISTRINYA DAN PARA KERABATNYA SERTA ORANG DISEKITARNYA 💫

Shalawat dan salam semoga selalu Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, pada keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

 

Dengan nama-nama Allah yang Husna, kita berdoa;

 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

 

(Allahumma inni/a as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa)

“Ya Allah, aku/kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib/baik dan amalan yang diterima.”
[HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

▶️ PASAL 1

“Seni Interaksi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Terhadap Istri-Istri Beliau”

Didalam bab ini kita mempelajari tentang beberapa sisi :
1) Seni Interaksi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam terhadap istri-istri beliau.
2) Pendidikan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak perempuan beliau.
3) Kunci-kunci untuk menghilangkan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan rumah tangga.

 

Perlu diketahui bahwa Istri-istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ada sebelas, meninggal sebelum beliau ada dua orang, dan ketika beliau meninggal beliau meninggalkan sembilan istri.

 

🌸 Istri-istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

1. Khadijah binti Khuwailid
2. Aisyah binti Abu Bakar
3. Saudah binti Zam’ah
4. Hafshah binti Umar
5. Zainab binti Jahsy
6. Zainab binti Khuzaimah
7. Ummu Salamah / Hindu binti Abu Umayyah
8. Ummu Habibah / Romlah binti Abu Sufyan
9. Maimunah binti Al-Harits
10. Juwairiyah binti Al-Harits
11. Shafiyah binti Huyay

 

🌸 Bagaimana Potret Seni Interaksi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Bersama Istrinya.

 

Sebagai pondasi dasarnya.
📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat An-Nisa’ Ayat 19;

 

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan bergaullah dengan mereka istri-istrimu secara patut/ma’ruf.”
{QS. An-Nisa/4 : 19}

 

📚 Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

 

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.”
[HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

 

1️⃣ Beliau senantiasa sangat gigih untuk selalu duduk bercengkrama dengan istrinya setiap hari bahkan pagi dan sore.

 

📚 Dari Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bercerita;
“Adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam jika setelah selesai sholat subuh beliau duduk ditempat sholatnya, dan para sahabat duduk disekitar beliau sampai terbit matahari. Kemudian beliau memasuki rumah istri-istrinya satu persatu, dan beliau menyalami istri-istrinya satu persatu. Kemudian beliau doakan istri-istrinya satu persatu.”
[HR. Imam Ath-Thabrani]

 

📚 Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita;
“Adalah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam jika sudah selesai sholat Ashar menemui istri-istrinya, kemudian beliau mendekat kepada salah seorang dari istrinya.”
[HR. Bukhari dan Muslim]

 

📔 Disebutkan oleh Imam al’Aini dalam Kitab Umdatul Qari;

“Bahwa yang dimaksud dengan mendekat kepada salah seorang istrinya adalah mencium dan romantis dengan istrinya tapi tidak menggauli, karena beliau akan menggilir dan menginap di salah istri yang memang saat itu adalah gilirannya.”

 

Dengan adanya media komunikasi yang modern di zaman sekarang ini, seorang suami senantiasa bisa selalu berkomunikasi dengan istrinya di zaman sekarang. Menghubunginya adalah untuk menenangkan hati istri. Berkomunikasi di zaman sekarang tidak membutuhkan waktu lebih dari pada 1 menit.

Akan tetapi menurut pandangan istri ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

 

2️⃣ Beliau Senantiasa Memperhatikan Hubungan Badan Dengan Istri-Istrinya.

 

Ini menunjukan bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau setiap hari menggilir istri-istrinya.

 

📚 Disebutkan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam diberikan kekuatan seperti 30 laki-laki.”

 

📚 Disebutkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu;
“Beliau terkadang menggilir istri-istrinya yang 9 tersebut dalam satu malam.”

 

Bagi para lelaki yang ingin melakukan syariat poligami maka perhatikan, apakah seseoranya mempunyai kekuatan dalam berhubungan badan, karena wajib untuk berbuat adil kepada istri-istrinya.
Kalau seandainya lemah dan tidak kuat maka mencukupkan dengan yang satu, dijaga kemaluannya, dijaga pandangannya. Ini lebih utama menurut jumhur Ulama.

 

3️⃣ Beliau Senantiasa Sangat Mengenang Kebaikan-kebaikan Istri.

 

Sebagaimana Rasulullah mengenang kebaikan Khadijah radhiallahu ‘anha.
Ini yang membuat Aisyah cemburu kepada Khadijah.

 

📚 Aisyah bercerita;

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُوْلِ الله , كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُوْلِ اللهِ , إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهَا

 

“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasulullah banyak menyebut dan menyanjungnya.”
[Sahih, HR. al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 2435]

 

Terkadang Rasulullah menyembelih kambing, memotong-motongnya sendiri, kemudian mengirimnya kepada teman-teman Khadijah.

 

كَأَنَّهَ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

 

“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?” Rasulullah menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu, dan aku mendapatkan anak darinya.”
[Sahih, HR. al-Bukhari no. 3818]

 

▪️ Anak-anak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari Khadijah yaitu
1. Al-Qasim
2. Abdullah
3. Zainab
4. Ruqoyah
5. Ummu Kultsum
6. Fatimah.

 

▪️ Adapun anak beliau yang bernama Ibrahim adalah dari seorang budak perempuan yang bernama Maria.

 

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam beliau sangat mengenang kebaikan istri.

 

📔 Diingatkan oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid.
Bahwasanya sebagian suami kadang-kadang ketika istrinya sudah meninggal kemudian menikah dengan istri yang baru, kemudian memuji istri yang kedua dan merendahkan istri yang sudah meninggal.
Ini bukan sifat yang ditunjuki oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

4️⃣ Beliau Senantiasa Mencium Istrinya Sebelum Keluar Dari Rumah.

 

📚 Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bercerita;

 

وَعَنْهَا أَنَّهُ قَبَّل بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

 

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu lagi.”
[HR. Tirmizdi dan Abu Dawud]

 

@ Ini salah satu sifat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika mau keluar rumah dia mencium istrinya.

 

5️⃣ Beliau Minum Dari Gelas Bekas Minum Istrinya.

 

Dan itu bahkan istrinya sedang dalam keadaan haid.
📚 Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita;
“Aku biasa minum dari gelas yang sama (dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ) bahkan ketika haidh, lalu Nabi mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.”
[HR. Imam Muslim]

 

6️⃣ Beliau Bersiwak Dengan Siwak Istrinya.

 

Ini terjadi pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan sekarat akan meninggal.
📚 Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita;
“Bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha melembutkan siwak yang ingin dipakai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah bersiwak.”
[HR. Imam Bukhari]

 

7️⃣ Beliau Senantiasa Tidur Dipangkuan Istrinya.

 

📚 Dari Aisyah radhiallah ‘anha bercerita;

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ رَأْسَهُ فِي حِجْرِي فَيَقْرَأُ وَأَنَا حَائِضٌ

 

“Rasulullah pernah meletakkan kepalanya di atas pangkuanku, lalu beliau membaca (Al Quran), sementara saya dalam keadaan haid.”
[HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah]

 

Dan ini dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saat usia beliau sudah berusia 50 tahun lebih. Karena beliau melakukannya di kota Madinah.
Inilah merupakan Sunah Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

8️⃣ Beliau Tidur Bersama Istrinya Dalam Satu Selimut.

 

Meskipun sang istri dalam keadaan haid.

📚 Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bercerita;

 

أُمَّ سَلَمَةَ قَالَتْ حِضْتُ وَأَنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ فَانْسَلَلْتُ فَخَرَجْتُ مِنْهَا فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي فَلَبِسْتُهَا فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ فَدَعَانِي فَأَدْخَلَنِي مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ

 

“Saat aku berada dalam satu selimut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mengeluarkan darah haid, kemudian pelan-pelan aku keluar dari selimut mengambil pakaian (khusus untuk haid) dan mengenakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Apakah kamu sedang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu memanggil dan mengajakku masuk ke dalam selimut.”
[HR. Al-Bukhari no. 298 dan Muslim no. 444]

 

9️⃣ Beliau Mandi Bareng Bersama Istrinya.

 

Dan ini tidak dilakukan hanya kepada Aisyah, juga kepada Maimunah, kepada Ummu Salamah.
Hampir semua istri-istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menceritakan hal tersebut.

 

📚 Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

 

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَمَيْمُونَةَ كَانَا يَغْتَسِلاَنِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Maimunah mandi bersama dari satu bejana.”
[HR. Bukhari, no. 253 dan Muslim, no. 322]

 

🔟 Beliau Senantiasa Memanggil Nama Istrinya Dengan Panggilan Kesayangan.

 

▪️ Seperti panggilan kesayangan kepada Aisyah, dipanggil dengan sebutan;
“Ya Aayish” (يا عايش),
[HR. Bukhari dan Muslim]

 

▪️ Beliau memanggil istrinya tersebut dengan panggilan;
“Ya Humaira'”
Yang memiliki arti putih pipinya merona kemerah-merahan.
[HR. An-Nasai]

 

@ Beliau sering memanggil Aisyah “Ya Humaira'” ini merupakan bentuk tasghir (panggilan kecil) dari “Hamra” (merah) sedangkan yang dimaksud adalah putih”

 

Maka semestinya seorang suami memiliki panggilan sayang dan manja kepada Istrinya.

1️⃣1️⃣ Kebiasaan Beliau Membawa Istrinya Keperkumpulan-perkumpulan Resepsi Pernikahan.

 

Ini bagus agar mata para suami terjaga.
📚 Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bercerita;
Ada tetangga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berasal dari Persia, dan orang tersebut termasuk orang yang senang memasak dan masakannya enak.

Kemudian orang tersebut memanggil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk makan dirumahnya.

Kemudian Rasulullah mengatakan;
“Apakah perempuan ini boleh ikut.?”
Orang tersebut menjawab;
“Tidak boleh.”
Akhirnya Rasulullah tidak jadi datang.

 

Kemudian Rasulullah bertanya lagi;
“Apakah perempuan yang ini boleh datang.?”
Orang tersebut menjawab;
“Iya boleh, silahkan datang.”
Akhirnya Rasulullah membawa keduanya.
[HR. Imam Muslim]

 

Kebiasaan para Nabi dan Ulul Azmi Minar Rusul adalah senantiasa membawa istri kemanapun.

📖 Allah Ta’ala berfirman Surat Al-Qasas Ayat 29;

۞ فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ

 

“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya.”
{QS. Al-Qasas/28 : 29}

 

📔 Imam Al-Qurtubi mengatakan;
“Didalamnya terdapat dalil bahwasanya, semestinya seorang suami sering-sering membawa istrinya kemanapun dia berjalan.”

 

1️⃣2️⃣ Beliau Senantiasa Memperhatikan Perasaan Istri.

 

Tenggang rasa terhadap istri, jika istri letih maka jangan dipaksa untuk melayani, jika istri senang maka berusahalah senang, jika istri sedih maka ikutlah dengan kesedihannya.
Dan ini dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam.

 

📚 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
“Wahai ‘Asiyah, Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.

Aisyah bertanya,
“Dari mana engkau mengetahuinya?”

 

Beliau menjawab,
“Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu, ‘Tidak demi Tuhan Muhammad’.
Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, ‘Tidak demi Tuhan Ibrahim!’.”

 

Aisyah pun menjawab,
“Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja.”
[HR Bukhari dan Muslim]

 

📚 Kisah lain dari Anas bin Malik radhiallahu bercerita;
“Shafiyah binti Huyay (seorang Yahudi), kemudian dikata-katain oleh Hafsah binti Umar bahwasanya dia anak perempuan Yahudi.
Kemudian Shafiyah menangis dan mengadu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Rasulullah mengatakan;
“Engkau adalah anak perempuan seorang Nabi yaitu keturunan dari Harun bin Imran, dan pamanmu seorang Nabi yaitu Musa bin Imran, dan engkau sekarang istri seorang Nabi. Kenapa mereka menyombongkan diri diatasmu.?”
=》Ini menunjukkan tenggang rasa kepada istrinya Shafiyah.
[HR. Imam Tirmidzi]

 

1️⃣3️⃣ Beliau Senantiasa Merawat Istri Yang Sedang Sedih Ataupun Sedang Sakit.

📚 Dikisahkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha;
Ketika Aisyah sedang berhaji kemudian datang haid kemudian menangis.
Kemudian Rasulullah mengatakan;
“Wahai Aisyah, haid ini sudah dituliskan atas perempuan-perempuan anak keturunan Adam, maka kerjakanlah apa yang dilakukan orang yang menunaikan ibadah haji kecuali tidak boleh tawaf di Baitullah.”
[HR. Mutafaqun Alaih]

 

1️⃣4️⃣ Beliau Mengusap Air Mata Istrinya Yang Sedang Menangis Dengan Tangan Beliau.

 

1️⃣5️⃣ Beliau Tidak Pernah mengangkat Suara Dihadapan Istrinya.

 

1️⃣6️⃣ Beliau Senantiasa Membantu Mengurus Rumah Bersama Istrinya.

 

📚 Dari Aisyah radhiallahu ‘anhu bercerita;
“Beliau menjahit pakaiannya dan memperbaiki sandalnya sendiri.”
Aisyah menambahkan;
“Beliau juga senantiasa mengerjakan apa yang dikerjakan para lelaki di rumah mereka.”
[HR. Ahmad]

 

@ Pesan Ustadz untuk para Ikhwah;
Istri bukan pekerja rumah tangga, bahkan kalau urusan makan, mereka bisa dan boleh untuk tidak memasak.
Karena kewajiban menyediakan makanan ada pada suami, tetapi ini dikembalikan kepada Urf kebiasaan masing-masing.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 228;

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

 

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”
[QS. Al-Baqarah/2 : 228]

 

Sang istri memiliki hak sebagaimana ia mempunyai kewajiban dengan cara yang ma’ruf sesuai dengan kebiasaan. Kalau kebiasaannya memasak maka masaklah, tetapi jika istri sedang malas memasak maka suami langsung menawarkan mau makan apa. Ini kewajiban suami.

 

1️⃣7️⃣ Beliau Membantu Istrinya Untuk Menaiki Kendaraan.

 

1️⃣8️⃣ Rasulullah Senantiasa Menjaga Bau Mulut Dan Bau Badan Dihadapan Istri-Istrinya.

 

Pernah beliau ingin mengharamkan madu yang dihalalkan oleh Allah gara-gara sebagian istrinya mengatakan mulut beliau bau, dan beliau baru saja minum madu.
Beliau menyangka madu tersebut membuat mulut beliau menjadi bau.

 

Kemudian penampilan dijaga, bau badan dijaga dihadapan pasangan, bulu-bulu ketiak dihilangkan, ini adalah sunah Rasul.
Berpakaianlah dihadapan pasangan kita seolah-olah kita berhadapan dengan orang yang kita hormati.
Wallahu Ta’ala ‘alam bishowab.

 

💫 SOAL – JAWAB 💫

➡️ PERTANYAAN :
Apakah berdosa seorang laki-laki yang mempunyai kemampuan baik berupa materi maupun kemampuan fisik namun tidak melakukan poligami karena takut Istri pertama marah. Mohon nasihatnya.!

 

➡️ JAWAB :
Hukum poligami itu seperti hukum nikah.

▪️Ada 5 hukum fiqih nikah dalam Islam;
1. Wajib
2. Mandub
3. Mubah
4. Makruh
5. Haram

▪️Begitu juga hukum fiqih poligami;

1. Wajib
Saat dia tidak sanggup untuk menahan syahwat kalau seandainya hanya memiliki istri satu.
Ketika istrinya sedang haid dia gemetar ingin melakukan hubungan badan, sedangkan istrinya tidak bisa digauli. Dan dia sanggup secara materi dan kekuatan maka pada saat itu dia wajib.
Kalau seandainya dia tidak berpoligami maka dia akan berzinah, maka ini wajib.

2. Mandub
Istrinya haid tetapi dia maaih bisa menahan dirinya.

3. Mubah
4. Makruh

5. Haram
Haram kalau dia poligami malah menelantarkan istri yang pertama, menceraikan istri yang pertama, mendzalimi istri yang pertama, tidak menafkahi istri yang pertama. Maka ini hatam hukumnya jika berpoligami.

Adapun permasalahan takut kepada Istri, ini adalah perihal takut manusiawi bulan takut berkaitan dengan Aqidah.
Takut karena khawatir hancur keluarga, sehingga tidak bisa melanjutkan keluarga yang sudah dibina, tidak bisa menafkahi dengan baik.

Maka takut yang seperti ini yang tidak berpengaruh kepada Aqidah, itu tidak mengapa.
Wallahu ‘alam bishowab.

 

➡️ PERTANYAAN :
Bagaimana tauladan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika istri justru gampang marah saat diajak bercanda san bercengkrama, ucapan suami seperti serba salah didepan istri, mohon nasihatnya.!

 

➡️ JAWAB :
Ini nasihat untuk para istri juga.
Bahwasanya terkadang suami malas ngobrol aama istri karena gak bisa diajak bercanda, gak bisa diajak ngobrol, cepet marah. Akhirnya sang suami mencari orang yang bisa dia ajak ngobrol. Kalau yg diajak ngobrol itu laki-laki masih mending, bagaimana kalau perempuan.

@ Ada pertanyaan;
Kenapa kalau melihat perempuan diluaran sana itu kelihatannya cantik, menawan, merebut hati kita. Tapi kalau pas ketemu dengan istri itu biasa saja..?

 

@ Dijawab oleh Ustadz Maududi Abdullah;
“Karena kita belum tahu dalamannya si perempuan ini, sedangkan kita tahu luar dalamnya Istri kita, baik buruknya istri kita.”

 

Nasihat untuk para perempuan.
📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Ar-Rum Ayat 21;

 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
{QS. Ar-Rum/30 : 21}

 

📔 Tafsir Imam Ibnu Katsir, menurut beliau;
Termasuk nikmat Allah yang Allah berikan kepada kita anak manusia, yaitu menjadikan pasangan untuk laki-laki berupa perempuan yang sejenis yaitu dari manusia. Yang dengannya akhirnya laki-laki dan perempuan jika sudah menikah maka dia akan mendapatkan sakinah mawaddah warahmah.

Coba kalau seandainya Allah menciptakan pasangan kita bukan dari jenia manusia, dari jin misalnya, mau dipeluk hilang.
Atau dari binatang misalnya, secantik-cantiknya orang hutan maka tidak akan pernah mengalahkan perempuan dari manusia.

@ Pesan dari penjelasan Imam Ibnu Katsir adalah;
Yang sering marah-marahan antara suami istri, Maka ini jangan-jangan salah satu dari mereka berdua bukan dari jenis manusia.

📚 Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallaahu’alaihi wa Sallam bersabda:

 

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

 

“Hendaklah seorang mukmin tidak membenci seorang mukminah, jika dia tidak menyukai perangainya niscaya dia menyukai yang lain.”
[Riwayat Muslim]

 

Banyak hal-hal kebaikan lain yang bisa kita cari dari pasangan kita, dan memaafkan kesalahan-kesalahan pasangan kita.

@ Pepatah Arab mengatakan;
“Jika engkau wahai istri setiap kali ingin mendapatkan suami yang tidak pernah salah maka engkau tidak akan dapatkan, maka kalau begitu hidup sendiri saja, atau engkau bersuami tetapi ingat, suamimu kadang salah kadang benar.”
Wallahu ‘alam bishowab.

 

➡️ PERTANYAAN :
Bagaimana cara menasehati istri yang sering main medsos, jangan sampai nasehatnya berlebihan atau melukai hati istri..!

 

➡️ JAWAB :
Cara yang paling baik memberikan nasihat adalah dengan contoh yang baik.
Suami ingin istri saat bersama kita benar-benar baik hatinya, pikirannya, raganya, tidak dengan HP. Maka berusahalah supaya suami juga memberikan yang seperti itu kepada istrinya. Saat ngobrol dengan istri letakkan HP disamping, saat bercengkrama dengan istri letakkan HP disamping, tidak usah digubris. Kita menghadapnya dan berbicara dengan semestinya, menjiwai berbicara dengannya.

Saat dihadapan kita istri, mintalah ijin kalau ingin memegang HP. Sebagaimana kita ingin dihargai maka hargailah orang yang ada dihadapan kita.

 

📚 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

 

“Maka hendaklah dia bersikap kepada orang lain dengan sikap yang ingin dia dapatkan dari orang lain.”
[HR. Muslim no. 8442]

 

▪️Kiat-kiatnya ;

1. Menjadi suri tauladan yang baik, maka dengan begitu sang istri akan juga mencontoh suami.
Karena suamilah pemimpin keluarga

 

📚 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ،

“Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”
[HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

 

Sebagaimana anak pencontoh palinh mahir mencontoh orang tuanya, istri juga mencontoh suaminya.
Seorang istri ketika dinasehati dan suaminya benar-benar mencontohkan yang baik, maka dia tidak akan menjawab ketika suaminya mencontohkan dengan contoh yang baik.

 

2. Dinasehati dengan santun dan terus terang, terutama saat sedang bermesraan, maka nasehatilah dari hati ke hati, biasanya dalam situasi seperti itu sangat mudah menerima nasihat.

 

3. Sang suami memberikan nasehat tidak seperti seorang guru memberikan nasihat kepada istrinya.
Harus dirangkul dan dimanja, Insyaa Allah bisa menerima dengan baik.
Wallahu ‘alam bishowab.

 

➡️ PERTANYAAN :
Bagaimana cara yang tepat menasehati suami bila meminta Istrinya untuk berjabat tangan ketika bertemu dengan keluarganya seperti paman suami, alasannya karena itu saudara ibunya dan dia khawatir bila keluarganya nanti merasa tidak dihormati karena istrinya tidak mau berjabat tangan, dan bila istri tidak mengikuti suami maka suami marah.
Mohon nasehatnya Ustadz. !

 

➡️ JAWAB :
Kita menginginkan keluarga kita sakinah mawaddah warahmah.

📔 Pesan dari Syeikh Abdurazzak;
“Bahwasanya keluarga sakinah mawaddah warahmah tidak akan bisa dibangun walau dengan teori yang begitu banyak jika tidak didasari dengan taqwa.”

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab Ayat 32;

 

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ

 

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa.”
{QA. Al-Ahzab/33 : 32}

 

📖 Allah Ta’ala juga berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 34;

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ

 

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”
{QS. An-Nisa/4 : 34}

 

Maka dasar rumah tangga sakinah mawaddah warahma adalah Taqwa.
Pada saat itu ketika suami memerintahkan untuk melakukan maksiat maka nasehati suami agar bahwa kita berumah tangga harus diatas ketaqwaan. Karena bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahrom adalah dosa besar.

 

📚 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 

لِأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمَخِيْطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

 

“Sesungguhnya andai kepala seseorang kalian ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
[HR. Imam ath-Thabrani]

 

📚 Aisyah bercerita;
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berjabat tangan dengan para wanita, kecuali istrinya atau budaknya, dan Rasulullah tidak menyentuh wanita yang bukan mahromnya.”

 

Bahwa keluarga harus dibangun di atas taqwa dan taqwa tidak bisa dibangun kecuali diatas ilmu agama. Maka jelaskan kepada suami bahwasanya ini bertentangan dengan syariat Islam.
Wallahu ‘alam bishowab.

 

✍️ TIM KAJIAN ONLINE MASJID ASTRA

 

__________________________________________________________________________________

 

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG.02

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG.02

 

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG.02

 

Dengan nama-nama Allah yang Husna, kita berdoa;

 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

 

(Allahumma inni/a as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa)

“Ya Allah, aku/kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib/baik dan amalan yang diterima.”
[HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

 

▶️ PASAL 2
“Kewajiban Menjadikan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai Suri Tauladan”

 

🔹 Kenapa kita wajib menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri Tauladan.

 

1️⃣ Karena kehidupan Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah kehidupan yang paling sempurna dari seluruh kehidupan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk dijadikan sebagai suri taulada seluruh manusia, semenjak beliau menjadi Nabi dan Rasul. Hal ini berdasarkan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sehingga manusia-manusia yang lain sanggup untuk mencontoh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
Kalau seandainya Rasul itu dari para Malaikat maka niscaya sulit bagi manusia untuk mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 128;

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
{QS. At-Taubah/9 : 128}

 

2️⃣ Mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berarti menta’ati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21;

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
{QS. Al-Ahzab/33 : 21}

 

📔 Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah;
“Seakan-akan Allah menginginkan kepada umat manusia untuk menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri tauladan, jika memang ingin berharap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir (masuk kedalam surga dan bertemu dengan Allah), dan juga mendapatkan pahala yang besar di akhirat kelak.”

 

Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa kebenaran tidak bisa dikaitkan dengan seseorang kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh sebab itu tidak pantas bagi kita untuk menjadikan seseorang sebagai sumber perkelahian kita, menjadikan perkataan seseorang sebagai sumber kebenaran, kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan begitu kita akan terlepas dari sifat fanatik dan hanya fanatik kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

3️⃣ Karena didalam kehidupan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam penuh dengan pelajaran.

Baik itu dalam perkara Aqidah, ibadah, adab dan akhlaq serta muamalah. Seluruh kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam penuh dengan pelajaran.

 

4️⃣ Karena orang yang ingin bahagia dan mendapatkan keberuntungan tidak akan bisa dia dapat kecuali dengan mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-An’am Ayat 90;

 

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ

 

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.”
{QS. Al-An’am/6 : 90}

 

Disini menunjukkan bahwa petunjuk, keberuntungan, keselamatan, kebahagiaan, tergantung sebesar apa kita menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri tauladan.

– Syarat keberuntungan adalah mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
– Keberuntungan didapat, saat mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
– Sebesar dia mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebesar itu keberuntungan yang dia dapat.
– Seteliti itu dia mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebesar itu pula kebahagiaan yang dia dapat.

 

🔹 Sisi-sisi apa saja yang bisa menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri tauladan.

 

1️⃣ AKHLAQ YANG MULIA

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Qalam Ayat 4;

 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

 

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
{QS. Al-Qalam/68 : 4}

 

Laa’ala ( لَعَلَى ) ini menunjukkan kepada Tauhid yaitu;
1. Penekanan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam selalu diatas akhlaq yang mulia.
2. Menunjukkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam selalu diatas akhlaq yang mulia. Baik dalam hubungan beliau dengan manusia, dengan hewan ataupun dengan alam semesta.

 

Dan akhlaq Rasul yang mulia ini dirasakan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, diantaranya;

📚 Dalam hadits, Shafiyah binti Huyay bercerita,
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih baik akhlaqnya dibandingkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”
[HR. Ath-Thabrani dengan sanadnya yang hasan]

 

📚 Hadist Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.
Anas bin Malik ini umur 10 tahun dibawa oleh ibunya Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
“Wahai Rasulullah ini Anas anakku akan menjadi pembantumu.”

 

Kemudian Anas bercerita bagaimana dia menjadi pembantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selama 9 tahun.
“Demi Allah, saya telah menjadi pembantu Beliau selama sembilan tahun. Saya tidak mendapatkan Beliau mengomentari apa yang aku kerjakan, seperti ‘Mengapa kamu berbuat seperti ini dan begini?’ Atau sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tidak berbuat seperti ini?’.”
[HR. Muslim]

 

@ Dua hal pelajaran yang disampaikan dan ini juga pelajaran kepada orang tua terhadap anaknya;
1. Untuk sesuatu yang sudah terjadi, Rasulullah tidak pernah mengatakan kenapa engkau lakukan itu.!
2. Untuk sesuatu yang belum dikerjakan, Rasulullah tidak pernah mengatakan kenapa belum dilakukan.!

 

📚 Dalam riwayat lain.
Anas bin Malik berkata :
“Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaq nya, yang paling lapang dadanya, dan yang paling dermawan. Maka suatu hari Beliau mengutus ku untuk suatu keperluan, kemudian aku keluar dan aku menuju anak-anak kecil yang sedang main di pasar untuk bermain bersama mereka dan aku pun keluar tidak untuk menunaikan hajatnya Rasulullah, maka ketika aku sedang bermain bersama mereka tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang bajuku, kemudian aku memalingkan wajahku untuk melihatnya. Seketika aku dapati Rasulullah tersenyum manis kepadaku dan berkata:
“Wahai Unais (panggilan kesayangan) apakah engkau sudah mengerjakan suatu keperluan yang telah aku perintahkan kepadamu?”

 

Maka aku pun berlari dan berkata :
“Ya, aku akan kerjakan sekarang wahai Rasulullah.”
[HR. Muslim]

 

@ Pelajaran yang bisa diambil.
“Sudahkah engkau pergi sesuai dengan apa yang aku perintahkan.?”
Kalimat inilah yang boleh disampaikan, bukan berkata,
“Kenapa belum pergi.?”
Kalau begini anak akan mencari alasan bagaimana bisa selamat dari kejaran orang tuanya, dan dia akan mencari alibi-alibi agar tidak disalahkan.

 

2️⃣ SIFAT PEMAAF

Sifat pemaaf dan sangat tidak cepat membalas dendam. Dan ini sangat susah karena beliau adalah pilihan.

📔 Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullah.
Mengapa sabar itu sulit.?
Beliau menjawab,
“Karena sabar itu adalah kedudukan yang paling tinggi, tidak akan ada yang sampai kepada kedudukan tersebut kecuali Ulul Azmi dari para Rasul.”

 

@ Contoh dari sejarah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.
Saat itu Rasulullah pergi ke Thaif, kemudian beliau pergi mendakwahi 3 orang bersaudara pemuka Thaif secara rahasia agar tidak gaduh.
Kemudian Rasulullah berpesan,
“Kalau seandainya kalian tidak menerima dakwahku tidak mengapa, aku akan kembali ke Mekah dan tidak perlu kalian memberitahukan kepada orang Thaif agar tidak gaduh.”

 

Ternyata mereka bertiga berkhianat dan diberitahukan kepada orang-orang, ketika Rasulullah ingin keluar dari Thaif, para budak dan anak-anak kecil sudah menunggu beliau dan melempari beliau dengan batu-batu sampai terluka.
Sedih hati dan sakit badan.

 

Maka ketika Rasulullah ditanya oleh Aisyah radhiallahu ‘anha,
“Apa hari yang paling berat engkau lalui..?”
Rasulullah menjawab,
“Ketika berdakwah ke Thaif.”

 

Setelah itu malaikat gunung datang kepada Rasulullah menawarkan agar gunung tersebut ditimpakan kepada Rasuulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Berkaata Rasulullah,
“Jangan, akan tetapi aku berharap kepada Allah agar keluar dari keturunan mereka orang-orang yang mengikhlaskan ibadah dan tidak mensyirikan Allah dengan sesuatu apapun.”

 

Begitulah beliau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana pemaafnya beliau, tidak cepat membalas dendam (Al Halim).

Terkadang sikap kita menanggapi sesuatu terlalu berlebihan, padahal dianggap santai juga pasti selesai.

 

📚 Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,
Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saat itu Rasulullah memakai sebuah surban dari daerah Najran, dan surbannya tebal.
Lalu datanglah seorang yang dari pedesaan, kemudian menarik surbannya dengan kencang.
Sampai aku lihat bekas tarikan surban tersebut si leher Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, setelah itu orang tersebut malah meminta-minta.

 

Orang tersebut berkata,
“Perintahkan agar aku mendapat harta yang Allah berikan kepada engkau, mana hartanya.?”

 

Kemudian Rasulullah hanya menoleh dan tersenyum dan berkata,
“Tolong kasih apa yang dia mau.”
[HR. Bukhari dan Muslim]

 

3️⃣ SIFAT PEMALU

📚 Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bercerita,
“Adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam beliau sangat pemalu dari perawan didalam pingitan. Maka jika kami melihat sesuatu yang beliau benci kami tahu wajah beliau.”
[HR. Bukhari dan Muslim]

 

4️⃣ SEMANGAT KASIH SAYANG

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sangat pengasih terutama terhadap umat beliau, dan bukan hanya kepada umatnya akan tetapi juga untuk alam semesta.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Anbiya Ayat 107;

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
{QS. Al-Anbiya/21 : 107}

 

Rasulullah pernah menangis semalaman suntuk dengan membaca satu ayat, karena mempunyai sifat kasih sayang. Beliau membaca surat Al-Maidah ayat 118.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ma’idah Ayat 118;

 

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
[QS. Al-Maidah/5 : 118]

 

Ayat ini sangat menyentuh hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam karena beliau sangat sayang kepada umatnya, beliau tidak ingin umatnya di siksa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Penyayang bukan berarti membiarkan seseorang dalam penyimpangan, bukan berarti membiarkan anak dengan hal-hal yang diharamkan dalam agama dengan dalil kasih sayang.
Kalau benar-benar kasih sayang maka akan meletakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar untuk orang-orang terdekat.

 

Penyayang juga terkenal dengan berkorban untuk orang yang dicintai.

📚 Dalam hadits Rasulullah berkata,
“Aku memohon kepada Allah syafa’at untuk umatku, dan Allah memberikannya untukku. Maka ia akan didapat dengan kehendak Allah bagi siapa yang tidak mensyirikan Allah dengan sesuatu apapun.”
[HR. Imam Ahmad]

 

Lihatlah bagaimana sangat penyayangnya Rasulullah kepada umatnya, dan syarat agar seseorang dapat syafaat yang syafaat itu tumbuh karena kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, syarat utamanya adalah tidak mensyirikan Allah dan tidak berkenalan dengan dosa syirik.

 

📚 Pernah suatu ketika ada pemuda dari kaum Malik ibnu al Khuwailid belajar kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Setelah hampir sebulan tepatnya dua puluh hari maka dia berkata,
“Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sangat penyayang dan sangat lembut.”

 

5️⃣ SANGAT INGAT KEBAIKAN ORANG LAIN

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sangat ingat kebaikan orang lain agar bisa membalasnya, meskipun sudah lama.
Diantaranya kebaikan istri beliau Khadijah radhiallahu ‘anha.

 

📚 Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita;

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

 

“Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata;
“Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya.
Akan tetapi ini karena beliau sering sekali menyebut-nyebutnya (memuji dan menyanjungnya) dan acapkali beliau menyembelih kambing, memotong-motong bagian-bagian daging kambing tersebut, lantas beliau kirimkan daging kambing itu kepada teman-teman Khadijah.

Suatu kali aku pernah berkata kepada beliau yang intinya seolah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah.
Maka spontan beliau menjawab:
“Khadijah itu begini dan begini dan dari dialah aku mempunyai anak.”
[HR. Bukhari no.3534]

 

Lihatlah bagaimana Rasulullah sangat ingat akan kebaikan Khadijah dan Khadijah adalah salah satu pejuang diawal-awal diutusnya Nabi menjadi Rasul.

 

6️⃣ TAWADHU (RENDAH HATI)

Beberapa kejadian bagaimana beliau sangat rendah hati, diantaranya;

📚 Hadits riwayat Bukhari;
“Beliau melewati anak kecil kemudian menyalaminya satu-satu.”
Itu bukan hanya sekedar lewat begitu saja, tapi timbul karena sifatnya yang mulia yaitu tawadhu.

 

📚 Hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrad;
“Anak kecil kadang narik beliau kemudian dibawa kemana, tapi beliau mengikuti saja.”

 

📚 Hadits riwayat Imam Ahmad dari Aisyah radhiallahu ‘anha;
“Beliau senantiasa membetulkan sendalnya, kemudian menjahit kembali bajunya, memerah sendiri susu dari kambingnya.”

 

Itulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling utama dari anak keturunan Adam.

📚 Dalam hadits riwayat Imam Muslim;
“Beliau sering duduk bersama orang-orang miskin, dan beliau sering berjalan untuk keperluan anak yatim dan juga para janda.”

 

📚 Beliau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memenuhi panggilan atau undangan seorang meskipun itu seorang budak.

 

7️⃣ SIKAP DERMAWAN DAN PEMURAH

Hal ini bisa dicontoh dengan mudah oleh sebagian orang yang benar-benar ingin mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yaitu sikap dermawan dan pemurah.

 

📚 Hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu;
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu, beliau tidak pernah mengatakan tidak, beliau tidak pernah minta tentang sesuatu, kalau beliau sanggup memberi beliau tidak pernah mengatakan tidak.”
[HR. Bukhari dan Muslim]

 

📚 Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam diberi surban yang ditenun khusus oleh seorang perempuan untuk beliau, agar bisa dipakai karena Rasulullah tidak memiliki surban yang bagus.
Saat pertama kali dipakai oleh Rasulullah, ada sahabat yang mengatakan,
“Wahai Rasulullah, surbanmu bagus.”

 

Rasulullah terkenal tidak pernah menolak orang yang minta-minta, maka beliau langsung kasih itu surban kepada sabahat yang berkata tersebut.

 

Sampai para sahabat yang lain marah kepada sahabat tersebut,
“Kenapa engkau ucapkan itu, bukankah engkau tahu sifat Rasulullah tidak pernah menolah orang yang minta.”

 

8️⃣ RASA TAKUT KEPADA ALLAH

 

9️⃣ ZUHUD DALAM PERKARA DUNIA

 

📚 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 

, مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

 

“Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya.”
[Hasan shahih: HR. Ahmad, I/391, 441 dan at-Tirmidzi, no. 2377; Ibnu Mâjah, no. 4109 dan al-Hâkim, IV/310 dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu . Imam at-Tidmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 438]

 

📚 Disebutkan dalam Hadist riwayat Bukhari dan Muslim.
Pernah suatu ketika Umar bin Khattab memasuki rumah rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah sedang tidar diatas tikar, tidak ada alas antara kulit beliau dengan tikar tersebut. Dan dibawah kepala beliau ada bantal yang terbuat dari kulit-kulit yang dibungkus, dan diatas kepala beliau ada tempat minum yang terbuat dari kulit yang tergantung.
Melihat keadaan seperti itu Umar bin Khattab mengatakan,
“Aku melihat bekas tikar membekas pada sisi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia.”

 

Inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, manusia anak keturunan Adam yang paling mulia, beliau Ulu Azmi bahkan pemimpinnya Ulul Azmi dari para Rasul.

 

Kemudian Umar menangis melihat hal demikian, lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Umar.
“Wahai Umar apa yang membuat engkau menangis.”
Umar mengatakan,
“Wahai Rasulullah, itu raja kaisar mereka dengan segala macam kemewahannya, padahal mereka kafir. Sedangkan engkau Rasulullah kenapa demikian.?”

 

Sungguh manusia termulia pernah tidur diatas tikar yang membekas ditubuhnya.

Lihatlah bagaimana beliau zuhud kepada dunia. Apa jawab Rasulullah,
“Tidakkah engkau rela wahai Umar, biarkan mereka punya dunia, kita punya akhirat.”

 

🔟 SANGAT YAKIN DENGAN JANJI ALLAH.

Inilah salah satu yang memotivasi kita untuk tetap teguh dalam keimanan dan ketaatan meskipun dalam kondisi sulit.

Beliau sangat yakin dengan janji Allah sehingga beliau tetap dalam iman, dalam taat, dalam kesholehan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meskipun kalau dilihat dengan kasat mata, dilihat dengan ilmu pengetahuan manusia yang sangat terbatas, tidak mendatangkan keuntungan.

 

@ Contoh :
Seorang pedagang yang mengayuh sepedanya berdagang barang-barang kelontongan.
Dia yakin dengan janji Allah, maka setiap kali dia mau keluar rumah untuk berdagang, yang ada dibenaknya,
“Kalau saya pergi kekanan saya akan dapati masjid ini untuk sholat dzuhur berjamaah disana, kalau saya pergi kekiri saya akan mendapati masjid ini untuk sholat dzuhur berjamaah disana.”
Yang ada dalam benaknya seperti itu, karena dia yakin dengan janji Allah.

 

📚 Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

 

« إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ »

 

“Sesungguhnya Allah Ta’la berfirman: “Wahai manusia, Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (rasa cukup dan puas, pent) dan Aku akan menutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan yang demikian itu, niscaya Aku akan penuhi kedua tanganmu (hari-harimu) dengan kesibukan (pekerjaan-pekerjaan) dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV/642 no.2466, Ibnu Majah II/1376, Ahmad II/358 no.8681, dan Ibnu Hibban II/119 no.393.]

 

Begitu juga Nabi Musa ‘alaihisallam.
Ketika Nabi Musa dengan pengikutnya didepannya ada lautan, dan dibelakang ada Fir’aun dengan bala tentaranya.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 60-62;

 

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ

 

60. Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.

 

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

 

61. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”

 

قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ

 

62. Musa menjawab:
“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.
{QS. Asy-Syu’ara/26 : 60-62}

 

Begitulah kita dalam kehidupan kita, harus yakin dengan janji Allah. Yang namanya proses keberkahan akan sulit dihitung dengan hitungan manusia.

 

🔹 Nasihat Ustadz untuk ikhwah-ikhwah yang sudah mengaji.

Semestinya harus lebih banyak beribadahnya, dzikir setelah sholatnya, jangan setelah salam lalu istighfar tiga kali lalu langsung ngobrol atau buka HP.
Lebih banyak baca Qurannya, lebih banyak tahajudnya karena itu adalah kebiasaan orang-orang sholeh, harus lebih banyak ibadahnya.
Seorang penuntut ilmu tidak hanya kuat manhajnya tetap juga kuat ibadahnya.

 

📚 Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

 

“Hendaklah kalian mengerjakan sholat malam karena itu merupakan kebiasaan orang saleh sebelum kalian, mendekatkan diri pada Allah, mencegah diri dari perbuatan dosa, menghapus keburukan dan mencegah penyakit dari badan.”
[HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim]

 

📚 Dalam kitab shahih, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ».

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.”
[HR. Muslim no. 7304]

 

Untuk sudah mengaji harus lebih semangat untuk beribadah, setelah ibadah yang wajib kerjakan ibadah-ibadah sunnah.
Wallahu Ta’ala ‘alam bishowab.

 

💫 SOAL – JAWAB 💫

➡️ PERTANYAAN :
Pernah si fulan mempraktekkan cara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperlakukan istrinya, tapi setelah dipraktekkan istrinya jadi ngelunjak, apa yang harus dilakukan Ustadz.?

 

➡️ JAWAB :
Yang dilakukan oleh si fulan apa dulu sampai si istri ngelunjak.
Salah satu contohnya adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sangat santun kepada istrinya, suka membantu pekerjaan-pekerjaan istrinya.

 

Kemudian kalau istrinya si fulan ini malah ngelunjak, malah menyuruh-nyuruh suami.
Maka jawabannya tetaplah santun kepada istrinya, tetaplah baik kepada istrinya.
Karena manusia itu tergadailan dengan kebaikan seseorang, dia akan sangat respek saat ada orang yang berbuat baik kepadanya.
Bagaimanapun ketika seorang suami tetap berbuat baik kepada istrinya maka sang istri lambat laun akan menghormati suaminya.

 

Saya nasehatkan kepada para suami agar suami mempunyai panggilan yang romantis dan sayang kepada istrinya, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mempunyai panggilan yang baik, sayang dan manja kepada istrinya.
Contahnya Rasulullah memanggil Aisyah dengan panggilan A’ish, Humairah.

 

Tetaplah berbuat baik kepada istri dan tunjukkan bahwa itulah akhlaqnya sudah sejak dahulu, sudah belajar dan ingin mempraktekkan.
Ketika suami berbuat baik kepada istrinya, maka jangan pernah berfikir bahwasanya dia merendahkan diri dihadapan istri, tetapi pada saat-saat tertentu dia tetap menjadi kepala keluarga.
Bukan berarti lembek didalam pendidikan pengajaran ditengah keluarganya. Tetapi berakhlaq yang baik tetap akan menjadikan sang suami bernilai dihadapan istrinya.

 

Ada pepatah mengatakan;
“Segala sesuatu akan rendah nilainya jika banyak, kecuali satu yaitu akhlaq yang mulia.”

 

Maka jangan takut wahai para suami dengan sikap ngelunjaknya sang istri.
Wallahu’alam bishowab.

 

➡️ PERTANYAAN :
Tadi Ustadz menyebutkan jika kita tidak mendiamkan seseorang dalam penyimpangan, maksud penyimpangan disini yaitu yang berhubungan dengan syariat. Apakah sebuah kekeliruan apabila kita mengingatkan penyimpangan dalam hal mubah misalnya didunia kerja, yang berpengaruh terhadap lingkungan kerja. Mohon nasehatnya Ustadz.!

 

➡️ JAWAB :
Apabila seseorang mempunyai bawahan, kemudian bahawannya ini mengerjakan sesuatu yang keliru.
Berdasarkan penjelasan tadi, seperti cerita Anas bin Malik, tidak boleh kita mengatakan,
“Mengapa engkau mengerjakan ini, mengapa engkau melakukan kesalahan ini.”

 

Maka tetap sama juga, baik dalam perkara ibadah syariat Islam ataupun perkara-perkara duniawi (mubah).
Seoranh atasan mengatakan kepada bawahannya, apabila bawahannya melakukan sebuah kesalahan yang patut dilakukan oleh atasannya adalah, memperbaiki kesalahan tersebut, bukan mencari mengapa kamu melakukan kesalahan ini.

 

Tetapi katakan kepada bawahannya,
“Bahwa pekerjaaan kamu ini salah, yang benar itu begini.”
Itu yang lebih tepat.

 

Jadi dia bisa dipakai, baik dalam perkara duniawi ataupun perkara akhirat.
@Contohnya:
Saya ingin mengingatkan bawahan saya bahwa dia mengerjakan pekerjaan yang salah.
Baiknya Katakanlah,
“Ini adalah kesalahan dan yang benar adalah ini, kedepannya jangan sampai diulang.”
Bukan dengan mengatakan,
“Mengapa kamu melakukan kesalahan ini.”
Wallahu’alam bishowab.

 

➡️ PERTANYAAN :
Bagaimana Interaksi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dengan mertuanya.?

 

➡️ JAWAB :
Jawabannya Insyaa Allah pekan depan akan kita bahas bagaimana sikap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada para kerabatnya, diantaranya kepada mertua.
Dan mertua Rasulullah diantaranya adalah Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khattab, dan mereka adalah orang-orang yang sangat Rasulullah muliakan, hormati.
Tetapi perlu diingat berbuat baik kepada mertua tidak bisa disamakan dengan bakti seorang anak kepada orang tua kandung.
Menantu Rasulullah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan.

 

Kita sebagai seorang muslim diwajibkan menghormati mertua dari beberapa sisi;
1. Mereka lebih tua umurnya dibandingkan menantunya, kalau memang lebih tua.
2. Mereka muslim
3. Kita sudah mempunyai hubungan dengan anak perempuannya yang menjadi istrinya

 

Maka pada saat itu kita berbuat baik kepada mertua kita disebabkan sebab-sebab tadi.
Tetapi tidak ada kewajiban seperti kewijaban seperti kita berbakti kepada kedua orang tua kita.
Wallahu’alam bishowab.

 

✍️ TIM KAJIAN ONLINE MASJID ASTRA

__________________________________________________________________________________

 

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG. 01

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG. 01

 

MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN – BAG.01

 

Dengan nama-nama Allah yang Husna, kita berdoa;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

 

(Allahumma inni/a as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa)

 

“Ya Allah, aku/kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib/baik dan amalan yang diterima.”

[HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

 

Kita sebagai seorang yang dituntut untuk beradab kepada setiap manusia, maka “Kitab Kaifa Amalahum (Seni Interaksi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam), karya Syekh Shalih Al-Munajjid.”

Bagaimana Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam berinteraksi dengan mereka, menjadi materi dan bahasan yang penting untuk kita pelajari.

 

BAB 1️⃣

——–

 

“RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM SURI TELADAN UNTUK ALAM SEMESTA”

 

Ada dua pasal :

  1. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam beliaulah suri teladan yang terbaik.
  2. Kewajiban menjadikan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sebagai suri teladan.

 

▶️  PASAL 1

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam beliaulah suri teladan yang terbaik”

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri teladan untuk alam semesta bukan hanya untuk orang Islam atau orang Arab.

 

🔹 Dalil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri teladan.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Al-Ahzab ayat 21;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

{QS. Al-Ahzab/33 : 21}

 

📔 Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini adalah;

▪️Pokok dasar yang sangat agung untuk bersuri teladan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam ucapan, perbuatan ataupun keadaan.

 

Maka kita sebagai seorang Muslim apalagi mengaku sebagai umat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kita disyariatkan untuk menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam satu-satunya manusia yang paling patut untuk dijadikan sebagai contoh teladan.

 

Yang dimaksud dengan Qudwah atau suri teladan adalah;

“Yaitu orang yang paling pantas untuk di contoh.”

 

Harus selalu dalam benak kita sebagai seorang muslim dalam kegiatan apapun, baik itu ucapan, perbuatan, keadaan senantiasa yang ada dalam benak kita, bagaimana bisa mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

▪️Syekh juga menyebutkan;

“Alangkah sangat berhajatnya seorang muslim pada saat ini untuk mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”

 

Terutama banyaknya ajakan-ajakan yang bathil pada masa ini, yang mana dikumpulkan oleh musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan memberikan godaan-godaan berupa syahwat ataupun syubhat.

 

▪️Syekh ingin menyampaikan kepada kita;

“Bahwasanya mempelajari buku untuk mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu sangat penting di zaman sekarang ini.”

 

Terutama di zaman medsos, semua orang bisa memberikan informasi dan mengakses informasi tersebut.

Ini sangat berbahaya, terkadang hal-hal yang tidak nampak kecuali didalam kamar antara suami istri, gara-gara media sosial maka bisa terlihat dengan jelas.

Keburukan-keburukan yang aturan dahulu sulit untuk tersebar, sekarang sangat mudah untuk menyebarkan dan mengaksesnya.

 

Caranya adalah kita mengkontrol itu semua dengan mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Siapa yang mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam maka dia mendapatkan keutamaan.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Al-An’am ayat 90;

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)”. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.”

{QS. Al-An’am/6 : 90]

 

Maksudnya adalah;

Petunjuk para Nabi ‘alaihiwasallam, dengan petunjuk para Nabi maka hendaklah kalian contoh.

 

▪️Imam Ibnu Katsir mengatakan ;

“Kalau seandainya ayat ini ditujukan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar mencontoh para nabi sebagai suri teladan, maka umatnya mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam apa yang di syariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang diperintahkan untuk mereka.”

 

Ini menunjukan bahwasanya mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hukumnya wajib, karena Rasulullah diperintahkan untuk mencontoh para nabi dan orang-orang shaleh.

Dan apa yang diperintahkan untuk Rasulullah maka wajib juga untuk umat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.

 

» Pelajaran yang bisa di ambil dalam QS. Al-An’am ayat 90.

  1. Keutamaan orang yang mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Perintah untuk mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Rasul diperintahkan oleh Allah untuk mencontoh para Nabi dan para Rasul ‘alaihiwasallam. Maka umatnyapun diperintahkan untuk mencontoh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

🔹 Beberapa perkara yang kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencontoh para Nabi dan para Rasul.

 

1️⃣  Harus kuat, kokoh, tegar saat mengerjakan ketaatan kepada Allah dan saat beribadah, tidak boleh lemah, loyo, malas-malasan.

 

@Faedah dari Surat Al-Asr.

Imam Syafi’i mengatakan Surat Al-Asr ini adalah,

“Apabila Allah tidak menurunkan Al-Quran kecuali Surat Al-Asr, maka itu sudah cukup bagi manusia.”

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-‘Asr ayat 1-3;

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالۡعَصۡرِۙ

  1. Demi masa,

 

اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ

 

  1. sungguh, manusia berada dalam kerugian,

 

اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ

 

  1. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

{QS. Al-Asr/103 : 1-3}

 

Kita sering mendengar bahwasanya yang di maksud dengan saling menasehati dengan kesabaran adalah;

– sabar dalam berdakwah dan mendakwahkan kepada orang lain,

– sabar dalam menuntut ilmu karena menuntut ilmu adalah ibadah,

– sabar dalam mengamalkan ilmu.

 

Salah satu perkara yang kita patut contoh dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah;

– kekuatan dalam mengerjakan ketaatan,

– kekuatan salam mengerkajan ibadah.

 

Maka dari itu para Nabi ‘alaihi wasallam mereka adalah orang-orang yang paling banyak ibadahnya, paling banyak sholatnya, dan paling banyak doanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Shad ayat 45;

 

وَاذۡكُرۡ عِبٰدَنَاۤ اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ اُولِى الۡاَيۡدِىۡ وَالۡاَبۡصَارِ

 

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi).”

{QS. Sad/38 : 45}

 

Apa maksud dari kalimat  اُولِى الۡاَيۡدِىۡ وَالۡاَبۡصَارِ (ulil-aydii walabsaar) pada ayat tersebut.?

Dikatakan oleh para Ulama Salafus Shalih yaitu;

“Orang-orang yang kokoh dan kuat beribadah.”

 

Para Ulama membandingkan mana yang lebih utama antara;

– orang yang mengerjakan ketaatan,

– orang meninggalkan maksiat.

 

Sebagian Ulama berpendapat yang mengerjakan ketaatan lebih utama karena memerlukan kekuatan. Harus kuat menahan ngantuk ketika sholat tahajud, ketika baca Quran.

 

📔 Imam Qadata rahimahullah mengatakan tentang Ulil aydii walabsaar tadi;

“Mereka para Nabi dan para Rasul diberikan kekuatan untuk beribadah dan ilmu dalam agama.”

 

Maka penting sekali doa-doa yang setiap pagi kita baca seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

📚 Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

 

(Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.)

 

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).”

[HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

 

(Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.)

 

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.”

[HR. Muslim no. 2723. Lihat keterangan Syarh Hisnul Muslim, hal.161]

 

Doa yang dibaca oleh Nabi Ibrahim ‘alaihisallam.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Ibrahim ayat 40.

رَبِّ اجۡعَلۡنِىۡ مُقِيۡمَ الصَّلٰوةِ وَمِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ‌‌ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ‏

 

(Rabbij ‘alnii muqiimas Salaati wa min zurriyyatii Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’)

 

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

{QS. Ibrahim/14 : 40}

 

Mendirikan sholat bukan hanya sekedar mengerjakan sholat, akan tetapi mendirikannya pada tepat waktu, penuh dengan kekhusyukan, tata cara sholatnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Maka harus kuat beribadahnya, jangan sampai lemah dan loyo.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Al-Insan ayat 26;

وَمِنَ الَّيۡلِ فَاسۡجُدۡ لَهٗ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلًا طَوِيۡلًا

 

“Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.”

{QS. Al-Insan/76 : 26}

 

2️⃣  Banyaknya dzikir mereka kepada Allah dan seringnya mereka berdoa kepada Allah, bermunajat, tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Nasehat untuk para ikwah yang sudah ngaji, kenal dakwah, kenal manhaj;

“Jangan sampai malas berdzikir, dzikir habis sholat fardhu, dzikir pagi dan petang, dzikir-dzikir kegiatan, jangan sampai malas berdzikir dan berdoa.”

 

📚 Dari ‘Abdullah bin Busr radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

 

“Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.”

[HR. Tirmidzi, no. 3375. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

 

Contoh Kisah Para Nabi.

 

▪️Nabi Ayub ‘alaihisallam berdoa ketika diberi ujian sakit.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Al-Anbiya ayat 83-84;

وَاَيُّوۡبَ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗۤ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ‌

 

  1. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

فَاسۡتَجَبۡنَا لَهٗ فَكَشَفۡنَا مَا بِهٖ مِنۡ ضُرٍّ‌ وَّاٰتَيۡنٰهُ اَهۡلَهٗ و مِثۡلَهُمۡ مَّعَهُمۡ رَحۡمَةً مِّنۡ عِنۡدِنَا وَذِكۡرٰى لِلۡعٰبِدِيۡنَ

 

  1. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.”

{QS.Al-Anbiya/21 : 83-84}

 

▪️Nabi Yunus ‘alaihisallam berdoa ketika beliau dalam keadaan didalam perut Ikan Paus yang sangat besar, dalam kegelapan lautan, kegelapan malam, kegelapan perut ikan.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Al-Anbiya ayat 87;

وَ ذَا النُّوۡنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّـقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌

 

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.”

{QS. Al-Anbiya/21 : 87}

 

▪️Nabi Yunus ‘alaihisallam ketika pergi dalam keadaan marah, beliau mengira bahwa kami tidak sanggup atasnya, lalu beliau berdoa didalam kegelapan-kegelapan;

 لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌

 

(laaa ilaaha illaaa Anta Subhaanaka innii kuntu minaz zaalimiin.)

 

“Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.”

 

▪️Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau senantiasa dalam setiap keadaan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Al-Anbiya ayat 90;

كَانُوۡا يُسٰرِعُوۡنَ فِىۡ الۡخَيۡـرٰتِ وَ يَدۡعُوۡنَـنَا رَغَبًا وَّرَهَبًا ‌ؕ وَكَانُوۡا لَنَا خٰشِعِيۡنَ

 

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

{QS. Al-Anbiya/21 : 90}

 

Yang perlu diingatkan jangan mengkhususkan suatu ibadah yang tidak disyariatkan dalam Islam.

– Kita sering mengatakan bahwa menetapkan berdoa dan selalu meruntin berdoa setelah sholat fardhu atau setelah sholat sunnah, ini belum disyariatkan. Tetapi bukan berarti kita tidak berdoa, yang menjadi permasalahan adalah merutinkan setiap abis sholat berdoa, ini belum ada syariatnya dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Berdoa bisa dilakukan kapan saja.

 

– Sama seperti menghkhususkan berziarah kemakam saat Idul Fitri dan Idul Adha, maka ini tidak ada syariatnya dan petunjuk dalam Islam dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka kita tidak mengatakan bahwa itu sunnah.

 

Tetapi bukan berarti kita tidak berziarah kubur, kalau berziarah kubur karena mungkin saat itu bertepatan hari libur dan bisa berkumpul hanya pada saat hari itu, maka ini diperbolehkan.

Jangan mengkhususkan ibadah dikuburan, apalagi sampai meminta-minta kepada ahli kubur yang tidak bisa menyanggupi kecuali Allah. Ini tidak diperbolehkan dan termasuk kesyirikan kalau dilakukan.

 

3️⃣  Khusyuk mereka, tunduk dan patuh hati mereka, dan mereka menangis saat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Amalan ini bisa kita amalkan di zaman-zaman sekarang, sempatkan waktu untuk menyendiri dan berkholwat bersama Allah untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah amal ibadah yang disyariatkan dan salah satu amalan yang akan mendatangkan naungan nanyi dihari kiamat.

 

📚 Dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

 

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.”

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

 

(7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

[HR. Bukhari, no.1423 dan Muslim, no.1031]

 

Para Ulama mengatakan;

“Barangsiapa yang mengerjakannya, maka akan ketagihan.”

 

Berkholwat bersama Allah dalam keadaan menangis adalah kebiasaan para Nabi dan para Rasul.

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Maryam ayat 58;

اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِمۡ مِّنَ النَّبِيّٖنَ مِنۡ ذُرِّيَّةِ اٰدَمَ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ وَّمِنۡ ذُرِّيَّةِ اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡرَآءِيۡلَ وَمِمَّنۡ هَدَيۡنَا وَاجۡتَبَيۡنَا‌ ؕ اِذَا تُتۡلٰى عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتُ الرَّحۡمٰنِ خَرُّوۡا سُجَّدًا وَّبُكِيًّا

 

“Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Yakub) dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.” (Sujud Sahwi)

{QS. Maryam/19 : 58}

 

4️⃣  Dalamnya ilmu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Mempelajari tentang Tauhid kita harus mencontoh beliau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kita harus berusaha mengenal Allah, karena;

“Seorang hamba kalau semakin kenal dengan Allah, maka semakin besar pengagungannya kepada Allah, semakin besar tunduk dan patuhnya, doanya, ibadahnya, rasa takutnya, rasa ikhlasnya, rasa cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

 

🔹 Mengapa kita harus mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan ada apa dengan beliau.

 

Karena orang-orang yang lebih mendewakan akal dibandingkan dengan dalil dari Alquran dan hadits Nabi, mereka paling tidak suka kalau kita berbicara masalah ini dan mereka sangat membenci kita menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah satu-satunya suri tauladan kita.

 

1️⃣  Karena kehidupan beliau adalah kehidupan yang paling sempurna dari manusia,

– sempurna dalam aqidahnya,

– sempurna dalam ibadahnya,

– sempurna dalam interaksi sosialnya,

– sempurna dalam adab dan akhlaqnya.

Maka pantas Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wasallam kita jadikan contoh.

 

📚 Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda;

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”

[HR. At Tirmidzi no:3895 dan Ibnu Majah no:1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no:285]

 

2️⃣  Karena menjadikan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh adalah ketaatan terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

📖 Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat An-Nur ayat 63;

فَلۡيَحۡذَرِ الَّذِيۡنَ يُخَالِفُوۡنَ عَنۡ اَمۡرِهٖۤ اَنۡ تُصِيۡبَهُمۡ فِتۡنَةٌ اَوۡ يُصِيۡبَهُمۡ عَذَابٌ اَ لِيۡمٌ

 

“maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

{QS. An-Nur/24 : 63}

 

Kalau mereka menyelisihi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mereka akan tertimpa fitnah yaitu musibah didunia atau siksa diakhirat.

Ini menunjukkan wajibnya kita mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan.

 

3️⃣  Karena penjagaan Allah terhadap Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau maksum, tidak ada yang maksum kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

4️⃣  Karena didalam kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terdapat banyak sekali pelajaran.

Baik itu yang berkaitan dengan Iman, Tauhid atau yang berkaitan dengan Akhlaq, kemudian tingkah laku, atau yang berkaitan dengan Manhaj (metodelogi dalam beragama).

 

5️⃣  Karena dengan mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka kita mendapatkan syarat untuk bisa mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan.

Tidak akan pernah seseorang bisa bahagia kecuali dengan mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

📚 dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

 

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.”

[HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

 

Dan salah satu tanda orang yang masuk agama Islam adalah menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai satu-satunya manusia yang paling berhak untuk dicontoh. Dan ini konsekwensi dari dua kalimat syahadat terutama syahadat Rasul.

 

📔 Dengan ini Syekh mengatakan bahwa,

“Semestinya yang paling utama adalah kita mempelajari sejarah dari kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar kita bisa mencontoh beliau.”

 

🔹 Apa saja yang kita Contoh dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Karena pembahasannya masih panjang maka kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya, Insyaa Allah.

Wallahu Ta’ala ‘alam bishowab.

 

💫  SOAL – JAWAB  💫

 

➡️  PERTANYAAN :

Jika kita punya salah karena sikap kita yang kurang baik, apa sebaiknya yang harus kita lakukan, terutama agar bisa memperbaiki sikap tersebut ustadz.?

 

➡️  JAWAB :

Ustadz beri contoh agar lebih mudah;

Orang suka berhutang, karena sebagian orang kalau berhutang maka ketika ditagih selalu berkata afwan.

Akhirnya dia kehilangan kepercayaan dari kawan-kawannya, karena susah bayar hutangnya.

 

Maka dia perlu untuk mengambil kepercayaan lagi dari orang lain.

Caranya bagaimana agar orang tersebut bisa melepaskan image buruk dari dirinya.

 

▪️Caranya yaitu :

1)  Dia harus berubah dan berusaha kepada yang lebih baik, dan berubahnya karena Allah bukan karena ingin dilihat oleh manusia.

Maka dia akan kembali mendapatkan kepercayaan.

📖 Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim Ayat 8 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).”

{QS. At-Tahrim/66 : 8}

 

2)  Tidak boleh putus asa untuk memperbaiki diri, sehingga bisa mengambil kepercayaan orang lagi dari diri kita, atau image buruk orang lain terhadap kita hilang karena kita benar-benar bertobat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Wallahu’alam bishowab.

 

➡️  PERTANYAAN :

Bagaimana jika seorang istri telat bangun, dzikir paginya jadi tertunda sampai jam 7.30 karena mendahulukan keperluan suami terlebih dahulu sebelum suami berangkat kerja.!

 

➡️  JAWAB :

Jangan telat bangun dijadikan sebagai alasan, karena telat bangun berarti sholat subuhnya terlambat.

Maka pada saat itu kalau kejadiannya dia sholat subuhnya terlambat, maka wajib merubah kebiasaannya.

Kalau dia bangun terlambat setelah selesai sholat subuh otomatis dia akan langsung menyiapkan keperluan suaminya.

Maka nasehatnya jangan dia lakukan keterlambatan itu kembali.

 

📚 Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu;

« لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ »

 

“Seorang mukmin itu tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali.”

[HR. Al-Bukhari]

 

Orang-orang yang membaca dzikir sholat dan dzikir pagi itu tidak lebih dari 15 menit, maka dia harus berusaha untuk merubah jangan sampai dia terlambat bangun subuh.

 

Kalau kejadian juga terlambat bangun subuh kemudian sholat subuh lalu mau berdzikir pagi, maka saat itu tidak mengapa jika karena tertidur dan telah datang waktu pagi, terbit matahari dan belum sempat berdzikir maka berdzikirlah kepada Allah.

Ini tidak terlarang kalau keadaannya benar-benar terpaksa atau ketiduran.

Wallahu’alam bishowab.

 

➡️  PERTANYAAN :

Dikatakan bahwa salah satu waktu mustajab berdoa adalah disetiap sujud, kemudian jika kita masih ingin menambahkan doa yang belum dibaca saat sujud, maka apakah dibolehkan juga berdoa setelah selesai dzikir sholat wajib, lalu apa yang dibaca sebelum kita masuk ke bacaan doa-doanya ustadz.?

 

➡️  JAWAB :

Benar bahwa sujud adalah keadaan yang paling istimewa untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

📚 Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

 

“Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.”

[HR. Muslim, no. 482]

 

Kalau berdoa dalam sujud maka langsung saja baca doanya, tidak perlu ada bacaan pembukaan. Yang penting doanya dari Alquran atau dari hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, ini yang paling utama.

 

📚 Dan yang paling utama lagi doa yang dibaca oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam saat sujud;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ

 

“Ya Allah ampunilah dosa-dosaku semua, baik yang halus atau yang jelas, yang awal dan yang akhir, dan yang terang-terangan dan yang tersembunyi.”

[HR Muslim No. 1112]

 

Tetapi boleh ditambahi dengan bacaan-bacaan doa yang lain dari Alquran ataupun dari hadits.

Kalau kita sholat berjamaah sujudnya terbatas, kemudian ingin doa yang panjang saat sujud tapi Imamnya sudah naik.

 

Apakah boleh doa tersebut dibaca saat setelah salam atau setelah sholat.?

Maka jawabannya berdoa didalam sholat atau setelah sholat bahkan jauh setelah selesai sholat, baik itu secara berdiri araupun duduk ataupun berbaring maka diperbolehkan.

Tetapi keyakinan bahwa doa sujud tadi tidak sempat dibaca lalu dia baca setelah selesai sholat, maka ini belum ada syariatnya bahwa itu adalah penyempurna dari doa uang tertinggal.

Dia boleh baca doa apa saja, baik saat sujud ataupun setelah selesai sholat.

Wallahu’alam bishowab.

 

➡️  PERTANYAAN :

Apakah semua yang berasal dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersifat sunnah, contohnya Rasulullah menyukai pakaian warna putih, apakah itu sunnah atau bukan.? Mohon penjelasannya Ustadz.!

 

➡️  JAWAB :

Ada istilah sifat Jibiliyah, sifat yang ada pada diri Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Maka sifat-sifat yang seperti ini kalau berkaitan dengan perihal keadaan-keadaan manusia, maka pada saat itu tidak diwajibkan.

 

Contoh :

Rasulullah memanjangkan rambut sampai sejajar dengan pundak, apakah kemudian kalau kita mencontoh itu kita disebut mencontoh sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.?

Jelas tidak, tetapi kita mengamalkan apa yang pernah di lakukan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, tapi itu bukan sunnah Rasulullah.

 

Tetapi jika dia mengerjakannya karena mencintai Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam maka dia akan mendapat pahala dari cintanya bukan dari pekerjaannya tersebut. Karena pekerjaan tadi adalah sifat tabiat manusia, mau tata cara makannya, selama belum ada pembatasan dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam atau dalam syariat Islam.

 

Kalau seandainya seseorang memakai baju putih, apakah dia berarti mendapatkan sunnah.?

Maka jawabannya iya, karena Rasulullah memerintahkan hal itu. Ketika perintah, maka perpindah dari yang tadinya mubah kepada perihal yang ibadah.

Pakai baju warna apa saja boleh, tetapi ketika dia melihat hadits memakai baju tersebut ada perintahnnya,

 

📚 Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

 

“Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih.”

[HR. An Nasai no. 5324, hadits shahih]

 

Dalam hadits tersebut disebutkan pakaian putih dan diperintahkan untuk memakai putih dan disebutkan keutamaannya.

Maka pada saat itu menjadi perintah dan disyariatkan untuk mencontoh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Meskipun memakai baju dengan warna lain juga boleh.

Karena asal hukum segala sesuatu adalah Mubah selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Wallahu’alam bishowab.

 

➡️  PERTANYAAN :

Dalam kondisi pandemik seperti ini kita sangat mudah memperoleh informasi secara bebas dari medsos. Mohon tuntunan Ustadz berkenaan dengan Link-Link pendidikan Islam yang disarankan oleh Ustadz terkait medsos.!

 

➡️  JAWAB :

Ini sebenarnya akan menjadi mudah saat kita mencontoh para Salafus Shaleh. Mereka kalau mau belajar agama sangat selektif.

 

Misalnya, mereka ingin mendatangi seseorang, maka mereka bertanya dulu kepada orang lain atau kepada orang tersebut siapa gurunya, silsilah gurunya belajar dimana, kawannya siapa.

Ketika belajar dengan orang tersebut apa yang diajarkan, apakah Alquran dan hadits.

 

Begitu juga didalam bermedsos, mau tidak mau kita harus mencari kolega-kolega yang kita sudah tau baik. Meskipun kita tidak boleh fanatik, kita sudah tau baik maka pada saat itu ambillah darinya.

Tidak bisa kita sebutkan misalkan salah satu TV atau TV online atau kajian-kajian online, tidak bisa kita sebutkan satu persatu.

 

Akan tetapi mudah bagi kita adalah ketika kita ingin belajar mengambil ilmu dan menyebarkan ilmu dari akun tersebut dan kita tahu bahwa aku tersebut dikelola oleh si Fulan.

Fulan ini kita tahu bahwasanya dia punya hubungan dengan siapa, dia pernah belajar dimana, dengan begitu kita akan selamat saat bermedsos.

Baik didalam mengakses informasi, menyebarkan informasi, maka kita akan selamat.

Wallahu’alam bishowab.

 

Kita sebagai seorang yang dituntut untuk beradab kepada setiap manusia, maka “Kitab Kaifa Amalahum (Seni Interaksi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam), karya Syekh Shalih Al-Munajjid.”

Bagaimana Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam berinteraksi dengan mereka, menjadi materi dan bahasan yang penting untuk kita pelajari.

Kitab Kaifa Amalahum

 

 

Kitab Kaifa Amalahum versi Terjemah Bahasa Indonesia

 

BAB 1️⃣

——–

“SURI TAULADAN UNTUK ALAM SEMESTA”

 

Ada dua pasal :

  1. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, beliaulah suri tauladan yang terbaik. chapter 1
  2. Kewajiban menjadikan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sebagai suri tauladan. chapter 2

 

BAB 2️⃣

——–

“SENI INTERAKSI RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM TERHADAP ISTRINYA DAN PARA KERABATNYA”

 

Ada tujuh pasal :

  1. Interaksi Rasulullah dengan istri-istri beliau.
  2. Interaksi Rasulullah dengan anak-anak beliau.
  3. Interaksi Rasulullah dengan cucu-cucu beliau.
  4. Interaksi Rasulullah dengan kerabat-kerabat beliau.
  5. Interaksi Rasulullah dengan tetangga beliau.
  6. Interaksi Rasulullah dengan tamu-tamu dan orang-orang yang mengundang beliau.
  7. Interaksi Rasulullah dengan teman-teman dan sahabat-sahabat terdekat beliau.

 

BAB 3️⃣

——–

“INTERAKSI RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DENGAN BERBAGAI MACAM GOLONGAN MANUSIA DI MASYARAKAT”

 

Ada delapan pasal :

  1. Interaksi Rasulullah dengan para pembantu dan para budak.
  2. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang yang cacat.
  3. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang yang mendapatkan musibah.
  4. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang miskin.
  5. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang kaya.
  6. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang yang mempunyai kedudukan.
  7. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang yang cerdas.
  8. Interaksi Rasulullah dengan orang-orang yang berselisih.

 

BAB 4️⃣

——–

“INTERAKSI RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DENGAN GOLONGAN MASYARAKAT YANG DIDAKWAHI.”

 

Ada beberapa pasal :

  1. Muslim mualaf.
  2. Orang-orang yang meminta fatwa.
  3. Orang-orang yang tinggal di pedalaman.
  4. Orang-orang yang ahli maksiat.
  5. Orang-orang yang munafik.

 

BAB 6️⃣

——–

“INTERAKSI RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DENGAN SELAIN MANUSIA”

 

Ada beberapa pasal :

  1. Dengan jin.
  2. Dengan binatang.

 

✍️ TIM KAJIAN ONLINE MASJID ASTRA

__________________________________________________________________________________

 

intanilmu.sch.id 

Misteri Hidup Setelah Kematian

MISTERI HIDUP SETELAH MATI

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Sobat…

Pernah mendengar seorang hidup lagi setelah mati…?!?!

Ternyata andapun bisa…!

Bahkan mungkin kehidupan dan umur kedua anda bisa lebih panjang daripada kehidupan dan umur anda di dunia!

Seorang manusia ternyata mempunyai umur dua kali, ditulis di dalam dua kehidupannya amal perbuatannya yang pertama di dalam kehidupannya di dunia dan amal perbuatannya yang kedua  setelah matinya, yaitu amal-amal shalih atau amal thalih (buruk)nya, sebagaimana Firman Allah Taala:

 {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ } [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan (juga kami menuliskan) bekas-bekas peninggalan mereka, segala sesuatu kami perhitungkan di dalam kitab yang nyata.” QS. Yasin: 12.

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:

{ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا } من الخير والشر، وهو أعمالهم التي عملوها وباشروها في حال حياتهم، { وَآثَارَهُمْ } وهي آثار الخير وآثار الشر، التي كانوا هم السبب في إيجادها في حال حياتهم وبعد وفاتهم، وتلك الأعمال التي نشأت من أقوالهم وأفعالهم وأحوالهم، فكل خير عمل به أحد من الناس، بسبب علم العبد وتعليمه ونصحه، أو أمره بالمعروف، أو نهيه عن المنكر، أو علم أودعه عند المتعلمين، أو في كتب ينتفع بها في حياته وبعد موته، أو عمل خيرا، من صلاة أو زكاة أو صدقة أو إحسان، فاقتدى به غيره، أو عمل مسجدا، أو محلا من المحال التي يرتفق بها الناس، وما أشبه ذلك، فإنها من آثاره التي تكتب له، وكذلك عمل الشر.

ولهذا: { من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة، ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة } وهذا الموضع، يبين لك علو مرتبة الدعوة إلى اللّه والهداية إلى سبيله بكل وسيلة وطريق موصل إلى ذلك، ونزول درجة الداعي إلى الشر الإمام فيه، وأنه أسفل الخليقة، وأشدهم جرما، وأعظمهم إثما.

Artinya: “Dan kami menulis apa yang telah mereka kerjakan” maksudnya dari amal baik dan buruk, yaitu amalan-amalan yang telah mereka kerjakan dan mereka lakukan secara langsung dalam kehidupan mereka, dan “(Juga kami menulis) bekas-bekas peninggalan mereka” yaitu bekas peninggalan kebaikan dan bekas peninggalan keburukan, yang mana mereka adalah penyebab terjadinya dalam kehidupan mereka dan setelah wafat mereka, amaalan-amalan itu timbul dari ucapan, perbuatan dan keadaan mereka, maka setiap kebaikan yang seseorang mengerjakannya dengan sebab ilmu orang tersebut, pengajarannya, nasehatnya atau ajakannya terhadap yang maruf atau pencegahannya atas yang mungkar atau ilmu yang ditinggalkan pada para murid-murid, atau di dalam kitab yang bermanfaat di dalam kehidupannya atau setelah kematiannya, atau ia telah beramal kebaikan berupa shalat, zakat, sedekah, atau kebaikan apapun lalu selainnya mengikutinya atau membangun masjid atau menyediakan tempat orang beristirahat di dalamnya dan semisalnya dengannya, maka itu adalah bekas-bekas peninggalannya yang dituliskan baginya dan demikian pula amal buruk.

Oleh karena inilah, (disebutkan dalam hadits): “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang buruk, maka atasnya dosa dan dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat”. Dan hal ini menjelaskan kepadamu tingginya kedudukan berdakwah kepada agama Allah dan (pemberian) petunjuk kepada jalan-Nya, dengan segala cara dan jalan yang menyampaikan akan hal itu. Dan (juga menunjukkan) turunnya derajat seorang pengajak kepada keburukan, pelopor di dalamnya, dan bahwa ia adalah makhluk paling terburuk, dan paling berat siksanya dan paling besar dosanya. “ lihat Kitab Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Al Kalam Al Mannan saat tafsir surat Yasiin: 12.

Inilah orang yang hidup setelah kematiannya…!

Ayo Cari umur keduamu dalam kebaikan!!!

Ditulis oleh K.H. Ahmad Zainuddin Al Banjary

Banjarmasin, Selasa 23 Rabiul Awwal 1439H

Kehidupan Dunia Seperti Air

Faidah yang anggun mempesona dari Imam al-Qurthûbî rahimahullâhu tatkala beliau menerangkan alasan mengapa Allâh subhânahu menyerupakan dunia dengan air sebagaimana dalam firman Allâh Ta’âlâ :
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ
“Dan buatlah perumpamaan bagi mereka bahwa kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari langit… ” [QS al-Kahfi : 45]

 

Seorang ulama yang arif menjelaskan :
Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menyerupakan dunia dengan air, (dengan beberapa alasan) :
1- ﻷنّ الماء ﻻ يستقرّ في موضع، كذلك الدُّنيا ﻻ تبقى على حالٍ واحدة.
1. Bahwa air itu tidak diam menetap di suatu tempat, demikian pula dengan dunia yang tidak tetap dengan satu kondisi yang sama.
2- وﻷنّ الماء يذهب وﻻ يبقى، فكذلك الدنيا تفنى. ولاتبقى
2. Bahwa air itu bisa (mengalir) pergi tidak tetap, demikian pula dengan dunia yang bersifat fana tidak kekal.
3- وﻷنّ الماء ﻻ يَقدر أحدٌ أن يدخله وﻻ يبتلّ، وكذلك الدُّنيا ﻻ يسلم أحدٌ من فتنتها وآفتها.
3. Bahwa air itu, seseorang tidak akan mampu masuk ke dalamnya tanpa basah, demikian pula dengan dunia, seseorang tidak akan mampu selamat dari fitnah dan bahayanya.
4- وأنّ الماء إذا كان بقدرٍ كان نافعًا مُنبتًا، وإذا جاوز المقدارَ كان ضاراًّ مُهلكًا، وكذلك الدُّنْيَا، الكفافُ منها ينفع، وفضولُها يضرّ”
4. Bahwa air itu, apabila (digunakan) secara proporsional kadarnya niscaya bermanfaat dan dapat menumbuhkan (tanaman), namun apabila melebihi batas berpotensi mendatangkan bahaya yang dapat membinasakan. Demikian pula dengan dunia, (jika digunakan) secukupnya bermanfaat namun apabila mengambil lebih dapat membahayakan.
Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân karya al-Qurthûbî (289/13)
– Naskah Arab dishare oleh Ahmad Zainudin di grup WA Multaqō ad-du’ât ilallâh
– Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad
@abinyasalma |

Batu Saja Dapat Dihitamkan oleh Dosa, Apalagi Hati

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Sobat…

Salah satu dampak buruk dari sebuah maksiat yang menghasilkan dosa di sisi Allah adalah hati akan menghitam dan kelam sehingga tidak akan masuk ke dalam diri hidayah, cahaya iman, yang mengakibatkan secara lahiriyah terkadang suka marah, kusut, suka galau, tidak menentu, tidak semangat dalam kebaikan, susah menghafal Al Quran dan malas berdoa dans semisalnya akibat penyakit hati yang hitam, yang pada akhirnya hati tersebut mati, meskipun ia berada dalam rongga tubuh yang masih hidup dengan sehat.

Mari perhatikan hadits dan penjelasannya berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَبِى هُرَيْرَةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Artinya: ‘Abdullah bin Abbas radhiayllahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telan turun hajar aswad dalam keadaan ia lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa anak keturunan Adam (manusia) menghitamkannya.” HR. Tirmidzi.

Sobat perhatikanlah penjelasan yang sangat menarik Ibnul Jauzi (w: 597H) rahimahullah:

وَقَدِ اعْتَرَضَ بَعْضُ الْمُلْحِدِينَ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ: مَا سَوَّدَتْهُ خَطَايَا الْمُشْرِكِينَ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُبَيِّضَهُ تَوْحِيدُ الْمُسْلِمِينَ، فَأَجَابَ عَنْهُ ابْنُ قُتَيْبَةَ، فَقَالَ: لَوْ شَاءَ اللَّهُ لَكَانَ ذَلِكَ، ثم أَمَا عَلِمْتَ أَيُّهَا الْمُعْتَرِضُ أَنَّ السَّوَادَ يَصْبِغُ وَلا يَنْصَبِغُ، وَالْبَيَاضُ يَنْصَبِغُ وَلا يَصْبِغُ، هَذَا قَوْلُ ابْنُ قُتَيْبَةَ.

وَالَّذِي أَرَاهُ أَنَا مِنَ الجواب: إن إبقاء أَثَرُ الْخَطَايَا فِيهِ وَهُوَ السَّوَادُ أَبْلَغُ فِي باب العبرة والعظة من تغيير ذَلِكَ، لِيُعْلَمَ أَنَّ الْخَطَايَا إِذَا أَثَرَّتْ فِي الْحَجَرِ فَتَأْثِيرُهَا فِي الْقُلُوبِ أَعْظَمُ، فَوَجَبَ لِذَلِكَ [أن] تجتنب.

“Dan sungguh sebagian orang ateis membantah akan hadits ini, ia berkata: “Apa-apa yang dihitamkan oleh kesalahan-kesalahan orang-orng musyirk (semestinya) di putihkan oleh tauhidnya kaum muslim (tetapi kenapa koq malah tambah hitam?-pent). Maka Ibnu Qutaibah rahimahullah menjawab, beliau berkata: “Jika Allah menghendaki maka hal itu pastilah terjadi”, kemudian, wahai orang yang membantah, apakah kamu tidak mengetahui bahwa warna hitam akan mewarnai dan tidak terwarnai, dan warna putih terwarnai dan tidak mewarnai”, dan ini adalah pendapat Ibnu Qutaibah rahimahullah.

“Dan yang aku lihat jawaban (bantahan orang ateis) nya adalah: “Sesungguhnya tetapnya bekas kesalahan-kesalahan di dalam yaitu warna hitam, lebih memberikan pelajaran dan nasehat daripada merubahnya. AGAR DIKETAUHI BAHWA DOSA-DOSA JIKA IA TELAH MEMBERIKAN BEKAS KEPADA BATU, MAKA PEMBERIAN PENGARUHNYA KEPADA HATI LEBIH BESAR, MAKA OLEH SEBAB ITU HARUS DIJAUHI (DOSA TERSEBUT).” Lihat Kitab Mutsir Al “azm As Sakin Ila Asyraf Al Makin, 1/126.

INILAH RAHASIA DARI HADITS RASULULAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang beriman jika melakukan dosa, maka akn ditorehkan di dalam hatinya noktah hitam, maka jika ia bertobat, melepaskan (maksiat tersebut) dan meminta ampun niscaya cemerlang (kembali) hatinya, (tetapi) jika ia bertambah maka akan bertambah (noktah hitam tersebut), dan itulah penghalang yang Allah telah sebutkan di dalam Al Quran

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” QS. Al Mutahffifin: 14. HR. Ibnu Majah.

SEMOGA DENGAN PENJELASAN Di ATAS SEMAKIN MEMBUAT KITA TAKUT UNTUK BERBUAT MAKSIAT YANG MENGAKIBATKAN BERDOSANYA KITA DISISI ALLAH TA’ALA.

Ditulis oleh K.H. Ahmad Zainuddin Al Banjary

Selasa, 24 Dzulhijjah 1434H, Dammam Arab Saudi